welcome to the page

welcome to the page

Kamis, 23 April 2015

Aku Kembali

Sudah lama sekali aku tidak mencurahkan tulisanku di sini. Kalau ini adalah sebuah rumah, mungkin kau akan melihat banyak sekali sarang laba-laba yang bergelantungan di tiap sudut ruangnya. Lihatlah, tulisanku yang terakhir, bulan Juni 2014. Nyaris setahun. Selebihnya tulisanku berceceran di mana-mana. Rugi rasanya.

Terhitung hari ini, aku akan kembali ke "rumah"ku lagi. Aku akan membenahi tempat ini, mengisinya lagi dengan tulisan-tulisan. Andai tempat ini bisa bicara, pastilah dia sudah merintih, mengeluh, menangis sedih. "Kenapa lama sekali kau pergi? Aku rindu padamu..."

Ah, benar, aku rindu. Terlepas tulisan-tulisanku ini bermakna atau tidak, aku akan tetap menulis. Mengisi kembali lembaran-lembaran yang sempat kosong. Aku tidak ingin masa tuaku nanti menyesal karena ada sejarah yang tak tercatat. Terhitung hari ini, aku kembali ke sini.

Hey Jacob, I miss you so bad... :)

Rabu, 11 Juni 2014

Sebuah Persimpangan

Berkutat dengan pekerjaan yang kugeluti saat ini memiliki banyak suka dan dukanya. Ada banyak hal unik yang kujumpai setiap hari, bahkan ada yang sedikit menyisakan trauma. Trauma? Iya, trauma. Karena ada satu insiden yang cukup berbahaya yang terjadi dan cukup membuatku sedikit trauma.

Bayangkan, kau sedang mengendarai motor dengan kecepatan sedang, lalu melintasi sebuah persimpangan. Sialnya, kau lupa mengurangi kecepatan. Lebih sialnya lagi, kau lupa kalau rem motormu belum diservis. Lalu terjadilah insiden itu, sebuah truk pengangkut tanah melintas di simpang yang sama, datang dari arah kiri, hendak membelok ke kiri (arah yang sama dengan arah yang kau tuju). Tapi ketika melihatmu kehilangan kendali, sopir truk malah menghentikan mobilnya tepat di tengah persimpangan. Ketika kau hendak menginjak pedal rem, semua sudah terlambat, spakbor depan motormu sudah menghantam bodi samping truk itu, lalu tersangkut. Kau panik, ditambah lagi sopir truk yang dengan segera memakimu. Kau semakin panik karena mulai banyak orang yang menontonimu. Ya, hanya menontonimu, tak ada yang datang menolongmu. Cukup lama sampai akhirnya seorang temanmu yang datang menolongmu, lalu seorang yang lain menjemputmu, mengajakmu masuk ke dalam mobilnya, dan menyuruhmu minum agar segera tenang (sementara motormu yang ringsek itu dihandle oleh temanmu yang satu lagi).

Bagaimana jika kau yang jadi aku, mengalami insiden itu? Bagaimana perasaanmu? Kacau? Bingung? Malu? Sakit? Semuanya... Ya, semuanya. Sedikit menyisakan trauma. Sekarang, ketika aku melintasi simpang itu lagi, aku segera waspada, mengurangi kecepatan motorku, lalu menoleh ke kanan-kiri. Tak lupa kubunyikan klakson motorku yang suaranya membahana itu. Hanya antisipasi, jangan sampai terjadi insiden memalukan itu lagi. Memang kesalahanku, terlalu terburu-buru, kurang hati-hati, dan tidak melihat ke kanan-kiri lagi. Belajar dari kesalahan itu, aku semakin berhati-hati setiap kali akan melewati sebuah persimpangan.

Persimpangan...
Dalam hidup ini pun kita selalu berhadapan dengan persimpangan, begitu banyak pilihan yang membingungkan. Kita akan ke kanan, atau ke kiri, atau lurus? Jauh-jauh sebelum bertemu dengan persimpangan itu seharusnya kita sudah tahu hendak ke mana arah langkah kita, ke mana tujuan kita, sehingga kita dapat melangkah lebih pasti. Jangan terburu-buru. Siapa tahu dari arah lain ada yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Bila salah langkah, akan terjadi "insiden tabrakan" seperti yang kualami.

Di persimpangan akan terjadi banyak pertemuan. Di persimpangan juga akan terjadi banyak perpisahan. Karena setiap pertemuan memang akan berakhir dengan perpisahan, yang kemudian untuk mengalami pertemuan lagi, perpisahan lagi, begitu seterusnya. Hidup ini adalah seni memilih. Dalam hidup ini dunia menawaran banyak pilihan. Tinggal kita yang harus bijak dalam memilihnya.

Selasa, 10 Juni 2014

Aku, si Perasa yang Pemalas (Melankolis-Plegmatis)


Hai, cukup lama aku meninggalkan rutinitasku karena ada beberapa hal yang menurutku perlu untuk didahulukan, dan tapi pada akhirnya tetap saja tidak selesai-selesai (if you know what I mean). Jadi, setelah sekian lama aku berhenti, hari ini aku mencoba untuk mengobati rasa rinduku pada rutinitasku lagi. Yep, aku mencoba menulis lagi. So, apa yang akan kutulis? Lihat saja, tidak usah banyak komentar.

Entah kenapa beberapa waktu belakangan aku merasa seperti memiliki dua kepribadian yang bertentangan dan terperangkap dalam satu tubuh yang seolah tak berdaya. Di satu sisi aku merasa "bahagia", tapi di sisi lain aku seperti merasa "bersalah". Aku bingung, ada apa ini sebenarnya? Sampai aku berfikir, mungkin tiap manusia terlahir dengan kepribadian ganda, karena aku yakin, sebagian besar manusia di bumi ini pasti pernah mengalami satu momen "bertentangan dengan diri sendiri" (entah teori dari mana itu, hahaa). Sampai akhirnya aku memutuskan googling tentang tipikal kepribadian manusia, dan aku menemukan beberapa artikel tentang empat tipikal kepribadian manusia itu.

Tidak perlu panjang lebar aku menjelaskannya, semua orang pasti sudah paham betul tentang Sanguinis, Koleris, Plegmatis, dan Melankolis. Untuk kali ini aku hanya akan menjelaskan karakter macam apa yang "hidup" dalam diriku (yang kadang aku pun merasa sebal dengan diriku sendiri). Setelah banyak membaca artikel psikologi tentang kepribadian manusia dan mencoba menjawab psikotes-psikotes tentang kepribadian, ternyata aku adalah perpaduan antara Melankolis-Plegmatis. Dua kepribadian inilah yang sering saling bertentangan dan "berperang" dalam diriku, tinggal lihat siapa yang paling dominan dan akan "memenangkan peperangan" dalam batin.

Dalam pergaulan, aku cenderung pendiam, tidak banyak bicara, lebih suka mendengarkan, sering menarik diri, dan lebih suka bekerja di balik layar. Di sisi lain, ketika menghadapi sesuatu, aku sering berprasangka buruk, mudah curiga, negative thinking, cenderung pemilih, dan sering berekspektasi tinggi. Ketika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang diekspektasikan, maka akan mengalami kekecewaan yang luar biasa. Aku sangat suka musik dan puisi, tak heran aku lebih suka menghabiskan waktu mendengarkan musik sambil membaca tulisan-tulisan indah milik Kahlil Gibran, yang terkenal sangat puitis. Kemudian, di kondisi lainnya, aku sering merasa terlalu perasa, gampang tersinggung, lalu kemudian menikmati rasa sakitnya sendiri tanpa bisa mengungkapkannya, dan pada akhirnya hanya memendam. Aku gampang menangis, kadang hanya karena melihat sesuatu yang mungkin menurut orang-orang kebanyakan hanya hal sepele (Misal : melihat anak kucing yang mengeong-ngeong di pinggir jalan mencari induknya, hatiku bisa mendadak pilu dan mata berkaca-kaca. Pasti dianggap lebay). Aku juga sedikit sulit mengungkapkan sesuatu, misalnya aku marah pada seseorang, aku memilih diam dan memendam, jadilah seperti "pendendam". Tapi ketika aku bersama sahabat terbaikku (teman dekatku), aku seakan-akan berubah menjadi seseorang yang sangat ekstrovert, sangat terbuka, dan berapi-api menceritakan segalanya. Aku menjunjung tinggi loyalitas, ketika aku sudah merasa nyaman dengan seorang sahabat, aku akan rela melakukan apapun untuk sahabatku dan tidak pernah memperhitungkannya. Aku siap menampung curhat, mampu memberikan solusi, sangat perhatian dan siap memberikan ‘segalanya’ untuk sahabatku tanpa mengharapkan pamrih. Ini semua adalah pengaruh dari si Melankolis.

Tapi di sisi lain, si Plegmatis juga punya kendali besar dalam diriku. Aku benci perdebatan dan perselisihan, aku cenderung lebih suka mengalah, menjauh, dan menghindar bila ada suatu konflik. Bukan berarti aku payah, bukan berarti aku tak mampu menyelesaikannya, tapi karena aku tidak suka perdebatan. Aku lebih baik mengalah daripada harus berdebat. Aku cinta kedamaian (padahal konflik tanpa perdebatan tentu tak akan menemukan pemecahannya). Aku juga sangat pemalas, mudah sekali merasa malas, bila sedang semangat untuk mengerjakan sesuatu namun tiba-tiba ada yang menghambat, seketika juga aku jadi malas untuk melanjutkannya, terlalu mudah patah. Aku butuh orang-orang yang bisa memotivasiku agar bangkit lagi. Aku sangat suka menunda-nunda pekerjaan, dan pada akhirnya akan menumpuk di injury time (pinjam istilah sepakbola). Dalam pergaulan, aku paling sulit untuk mengatakan "TIDAK", padahal aku tahu hal itu bertentangan dengan hal yang semestinya. Aku paling sulit untuk menolak, apalagi bila itu sebuah permintaan dari orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, sehingga aku tidak bisa berkata "TIDAK". Bila aku mengecewakan mereka, maka aku akan merasa sangat bersalah, padahal terkadang bukan aku yang salah.

Sungguh sangat berbahaya perpaduan ini bila yang negatif sama-sama kuat menguasai lahir-batinku. Tapi aku sedang berusaha menggali potensi positif dari kedua kepribadian ini. Aku sedang belajar, aku sedang berusaha. Aku tahu, semua itu tidak bisa dihilangkan karena sudah menjadi karakterku, tetapi setidaknya bisa diubah. Perlahan tapi pasti, akan kugali sisi positif Melankolis-Plegmatis itu, aku akan mengubah diriku ke arah yang lebih baik lagi. Semua karakter kepribadian itu punya sisi positif dan negatif, semuanya baik, karena semua ciptaan Tuhan pasti baik adanya.


Selasa, 18 Maret 2014

Namanya Aksan...

Namanya Aksan. Badannya tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu tinggi, tapi kostum kerjanya (sepatu dan helm safety) selalu membuatnya terlihat gagah. Di proyek, ia dijuluki "Si Tangan Dingin". Semua mesin dan alat yang rusak pasti hidup lagi bila sudah disentuhnya. Geraknya pun lincah, tidak pernah terlihat diam di satu tempat. Dalam satu jam ia sudah berpindah tempat berkali-kali.

"San, tolong ke pasar ya, belikan engkol mesin."

"Sekarang Ndor?"

"Nggak, tahun depan. Ya sekarang lah! Pake nanya. Ini duitnya..."

"Hehee... Bercanda... Siap Ndor..."

"Pulang dari pasar lu mampir ke Toko Sinar, kemarin bos pesan bor, sudah dibayar, lu tinggal ambil aja."

"Beres Ndor. Ada lagi?"

"Sudah, itu aja."

Tak sengaja kudengar percakapan Aksan dan Mandor di depan camp-ku. Aksan masih saja bisa bercanda dengan Mandor, padahal kelihatan dari raut wajahnya kalau sebenarnya ia sedang malas disuruh-suruh.

"Mukanya jangan ditekuk gitu dong, San," teriakku dari dalam camp ketika Mandor sudah pergi.

"Siapa yang mukanya ditekuk? Orang senyum gini kok!" Aksan langsung nyengir lebar. Sangat lebar. Tapi jadi lucu karena senyum terpaksa. "Saya kan mencintai pekerjaan saya, jadi tidak boleh cemberut," sambungnya.

"Hahaa, iya deh, iya, yang cinta pekerjaannya." Aku tertawa geli melihat ekspresinya. Masih saja berusaha menghibur diri. Padahal dalam hati sedang jengkel. Bagaimana tidak jengkel? Seharian ini Mandor seperti orang kesurupan, tiba-tiba marah tak jelas, mengomel tak jelas, instruksi yang berubah-ubah (aku pun jadi ikut jengkel mendengarnya). Seluruh anak buahnya kena batunya, termasuk Aksan. Padahal Aksan adalah anak buah kesayangannya.

"Tebakan gue nih, Mandor tadi pagi habis diceramahin sama Big Boss, makanya jadi uring-uringan gak jelas gitu."

"Lho, bukannya lu bilang Mandor emang suka gak jelas tiap hari, San?"

"Iya, emang. Tapi hari ini beda dari biasanya. Anak-anak dibuat kelabakan. Si Yudi lagi benerin PC 40 disuruh ke ujung sana. Si Riko lagi di ujung malah disuruh naik. Lah gue, tadi lagi benerin mesin di ujung situ tuh, tahu-tahu dipanggil ke sini, disuruh beli engkol mesin. Tadi lu denger sendiri kan suaranya yang cetar membahana itu? Dari sini manggil bisa kedengeran sampe ke ujung situ."

"Hahaha, iya, tadi gue denger. Yang sabar ya..."

"Iya, sabar... sabar... sabaaaar..."

"AKSAAAAAN...!!! Masih belum pergi juga?!" tiba-tiba suara Mandor yang menggelegar memecah obrolan kami.

"Iya Ndor, ini juga udah mau jalan." Aksan cuma bisa tepok jidat berkali-kali. "Panjang umur banget sih tuh orang? Baru juga diomongin," gerutunya."

"Udah San, jalan sana. Kalo sekali lagi dia liat lu masih di sini bisa tambah ngomel dia."

"Iya deh, gue jalan dulu."

"Oke, hati-hati."

Sesaat kemudian, Aksan meluncur dengan gesitnya meninggalkan camp. Di sudut lain terlihat si Mandor berjalan menuju ke arah camp. Wah, bakal gak aman ini, siap-siap cari headset deh. Roman-romannya dia bakalan ngoceh-ngoceh lagi. Aku segera berlari masuk ke camp lagi.

"Heeeh, Heraa... Ngapain lu lari pas liat gue?"

Ah, sial! Dia liat.

"Kagak Ndor. Cuma mau nyari'in baut aja. Mandor kesini mau nyari baut kan?"

"Ngeles aja lu. Tapi, emang iya sih. Baut 7/16 deh, 50 set."

"Siap Ndor...!!!"

Kerasnya hidup di proyek. Tapi inilah seninya, mengajarkanku untuk hidup tangguh. Apalagi dengan perbandingan 200 : 1 begini, 200 pria dan 1 wanita, benar-benar dituntut untuk tangguh.

"Pandai-pandailah berkamuflase," setidaknya begitulah kata Aksan waktu itu. Untung saja dari 200 itu masih ada yang "normal" seperti Aksan. Kalau tidak, aku bisa benar-benar gila. Hahahaa...


*based on true story with some editing* :)

Senin, 24 Februari 2014

Kembali (The End of Story, Part 3) >> (selesai)

Aku ingin mendengar langsung Jun mengatakannya padaku, setelah itu terserah. Bila Tuhan memang menginginkan aku pulang padaNya, aku rela. Yang penting Jun sudah mengatakannya sendiri di depanku.

Dasar bodoh kau Jun! Bertahan dalam keadaan yang menyiksa seperti ini. Bodoh! Aku bisa merasakan perasaanmu itu. Hanya saja, haruskah aku yang memulainya? Tidakkah kau ingin mengatakannya sendiri? Jun! Sadar! Aku di sini selalu menunggumu. Aku masih percaya dengan kalimat andalanmu, "Biarlah waktu yang akan menjawabnya." Dan kuharap inilah waktunya.

"Rin, maafkan aku. Aku memang bodoh. Kau tahu itu? Aku bodoh. Waktu itu aku sudah mengatakannya padamu, tapi kau malah pergi meninggalkanku. Empat hari yang lalu, aku mengajakmu ke lapangan bola sekedar mengobrol, kau pun pergi lagi meninggalkanku. Aku tahu, tidak mudah bagimu untuk memaafkan aku. Tapi kali ini aku mohon, sadarlah. Maafkan aku..."

"Rin, kembalilah. Bicaralah padanya."
Tiba-tiba ada seorang pria mengenakan jubah putih berdiri di sebelahku, wajahnya berseri-seri, dan ia tersenyum padaku. Inikah Malaikat Gabriel sang Pembawa Kabar Gembira itu? Aku pun tersenyum, memandang wajahnya membuat hatiku tenang.

"Belum waktunya kau pulang, Rin. Waktumu masih panjang. Kembalilah, dan dengarkan dia berbicara."
Sesaat kemudian aku memejamkan mata, lalu cahaya putih yang begitu menyilaukan menyorot ke arahku. Semakin lama semakin benderang, semakin menyilaukan, lalu aku pun tenggelam di dalamnya.

"Rin, bangunlah, maafkan aku..."

"Aku sudah bangun, Jun. Bicaralah, aku ingin mendengarnya langsung darimu."

"Rin, kau sadar? Puji Tuhan... Bu, Rin sudah sadar..."

"Puji Tuhan, kamu sadar Nduk. Ibu panggilkan dokter dulu."

Aku tersenyum, "Bicaralah Jun, sebelum aku pergi. Waktuku tak banyak!"

"Apa maksudmu? Hei, kau baru sadar, jangan terlalu banyak bicara."

"Bicaralah sebelum aku pergi."

"Baiklah... Baiklah... Jangan pergi lagi. Aku sayang padamu. Sudah cukup dua tahun menahan perasaan ini. Sudah cukup Rin, sudah cukup."
Jun, kau menggenggam tanganku begitu erat. Empat tahun aku mengenalmu, baru kali ini aku merasakan genggaman tanganmu, begitu hangat. Andai saja kau akui dari dulu Jun, mungkin keadaan tak akan seperti ini.

"Rin, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Ingat?"

"Aku selalu mengingat kalimatmu itu. Jadi, inikah waktunya?"

"Iya, inilah waktunya. Waktu yang telah menumbuhkan perasaan itu, dan waktu telah membuktikan padaku bahwa perasaan ini tidak bisa dibohongi."

"Dan ternyata rasa sayangku tidak pernah berkurang dimakan waktu."

"Maaf ya, aku memang bodoh, terlalu takut persahabatan kita rusak."

"Bukankah dengan kasih sayang, persahabatan kita akan semakin kuat, Jun?"

"....................."

"kau hanya tersenyum, apa artinya?"

"Sudah cukup lama hatiku kehilangan sahabatnya. Kali ini tidak akan kulepas lagi. Baiklah, ini akan terdengar sedikit aneh, karena tanpa persiapan apa-apa. Tapi, bersediakah kau menjadi calon istriku?"
Aku spontan langsung mengangguk lemah karena kepalaku masih sakit. Kemudian aku hanya tersenyum sambil melirik ke arah pintu keluar, memberi kode bahwa Jun harus meminta persetujuan dari Ibu. Dan sepertinya Ibu tahu bahwa kehadirannya sangat di tunggu di momen terpenting ini. Tak lama kemudian Ibu datang sendirian. Dokter sedang bersiap-siap dahulu. Jun terlihat terburu-buru menyusul Ibu, kemudian diajaknya ke ranjang tempatku berbaring.

"Ibu, maukah Ibu menjadi calon mertuaku? Bolehkah aku menjadi menantu Ibu?"

"Tapi kalian harus selesaikan kuliah kalian dulu ya, lalu bekerja..." ucap ibu sambil tersenyum.

"Puji Tuhan.... Terima kasih Bu, terima kasih." Jun langsung mencium tangan Ibu.
Aku tersenyum lega mendengar ucapan Ibu barusan. Terima kasih Tuhan, terima kasih.

"Rin, bisakah kelak kau jangan memanjat pohon itu lagi? Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa padamu. Aku tidak mau kau sampai terjatuh lagi."

"Kalau aku tidak pernah naik ke puncak pohon markasmu itu, pasti aku tidak akan seberani tadi untuk mendesakmu dan membuatmu mengaku."

"Jangan-jangan kau...."

"Iya, sudah kubaca semua... Terima kasih ya..."

"Curang... hahaa... Tapi tidak apa-apa, akhirnya kau berhasil melawan rasa takutmu terhadap ketinggian."

"Dan itu kau tulis tepat di tanggal 14 Februari, dua tahun lalu, sebelum kau tiba-tiba pergi menghilang tanpa kabar."

"Sudah Rin, sudah. Tidak usah dibahas lagi. Sekarang kan sudah selesai...."

"Iya, sudah selesai."

"Permisi, maaf ya Mas, bisa tolong tunggu di luar sebentar, pasiennya mau diperiksa dulu."

Perawat dan dokter datang untuk memeriksa keadaanku. Jun melepaskan genggaman tangannya dari tanganku sambil tersenyum, tapi aku menahannya.

"Jun, jangan pergi!"

"Aku tidak akan pergi lagi Rin, aku akan menunggumu di luar. Percayalah."

"Iya, aku percaya."

Aku masih sangat ingat kalimat andalanmu Jun, dan karena itulah aku masih bersabar menunggumu. Ketika kubaca tulisanmu di pohon itu, maka semakin yakinlah bahwa kali ini kau memang kembali untukku.

Biarlah waktu yang menjawabnya...
Maafkan aku yang tidak berani mengaku...
Bila memang berjodoh, cepat atau lambat pasti kembali, Rin...
Untuk kali ini, maafkan aku...
Aku sayang padamu...
Dan biar hanya aku, Tuhan, dan pohon ini yang tahu...
(Jun -14022012-)

"Dokter, sekarang hari apa?"

"Jumat."

"Tanggal berapa?"

"14 Februari"

Aku pun tersenyum...
Tepat dua tahun yang lalu...
Terima kasih, Arjuna...

#THE END#

Kembali (The End of Story, Part 2)


"Sebenarnya aku, juga.... Juga menyimpan perasaan itu Bu."
"Sejak kapan?"
"Sejak dua tahun yang lalu, ketika aku mulai bersama Nay......."

"Jadi?"

"Iya, kali ini aku akan mengaku. Aku benar-benar bodoh. Aku sudah berbuat kesalahan. Dua tahun aku bersama Nay, berusaha menepis semua perasaan pada Rin, tapi justru hati dan pikiranku malah tertuju pada Rin. Bersama Nay, aku tidak bisa jadi diriku sendiri. Bersama Nay, aku merasa tidak leluasa. Bahkan teman-temanku bilang bahwa sejak bersama Nay aku malah menjadi seperti orang lain. Aku bodoh Bu, aku terlalu takut untuk mengakui kalau hati ini juga merasakan apa yang Rin rasakan. Aku takut nanti malah memperburuk keadaan."

"Nak Jun, seharusnya Nak Jun tidak perlu ragu dengan perasaan itu. Tidakkah Nak Jun merasakan ketulusan Rin? Maaf, bukan Ibu ingin ikut campur, tapi kali ini Ibu memang tidak bisa membiarkan keadaan ini. Lihat Rin sekarang, hanya terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan koma, sudah tiga hari dan entah kapan akan sadar."

"Maafkan aku Bu, maafkan aku..."
Kulihat Ibu meneteskan air mata. Wajahnya memang terlihat tegar, tapi air mata itu adalah bukti bahwa sebenarnya Ibu juga rapuh. Jun pun akhirnya tak bisa membendung lagi, air matanya mengalir deras. Baru kali ini aku melihat Jun seemosional itu. Lalu kemudian, aku merasa pipiku juga basah. Kenapa aku ikut menangis? Aku lelah, aku ingin istirahat. Namun betapa kagetnya aku ketika membalikkan badan dan mendapati tubuhku sedang terbaring di ranjang. Aku segera mendekati, kemudian melihat, aku terlihat sangat pucat, dan ada banyak alat yang tersambung di tubuhku. Aku keluar dari ragaku? Oh, tidak! Jangan! Jangan sekarang. Aku belum mau mati. Aku ingin mendengar langsung Jun mengatakannya padaku, setelah itu terserah. Bila Tuhan memang menginginkan aku pulang padaNya, aku rela. Yang penting Jun sudah mengatakannya sendiri di depanku.



Bersambung......

Kembali (The End of Story, Part 1)

Kini aku duduk di antara mereka berdua, tapi aneh, mereka tak menyadari keberadaanku. Aku seperti tak terlihat. Tunggu, ini seperti di alam lain. Aku berdiri, kemudian melambaikan tanganku di depan wajah mereka satu persatu, tapi ternyata mereka tetap tidak melihatku. Kali ini aku mencoba menyentuh mereka, tapi betapa kagetnya aku ketika tanganku malah menembusi tubuh mereka. Tidak! Ini tidak mungkin. Tidak mungkin aku sudah mati. Aku panik, semakin menggila, aku malah berusaha memukul-mukul mereka, tetap tidak bisa. Kemudian aku mencari sesuatu, apapun itu, untuk bisa kusentuh, untuk memberi tanda bahwa aku ada di antara mereka. Sial! Aku masih tetap tidak bisa. Aku putus asa, lalu aku mencoba duduk lagi, berusaha mengatur nafasku, mencoba untuk tenang. Aku ingin mendengarkan percakapan mereka.

"Maaf, Bu. Maafkan aku."

"Sudahlah Nak Jun, tidak ada yang perlu dimaafkan, tidak ada yang perlu disesali. Semua sudah terjadi."

"Aku tidak pernah menyangka kalau perasaan Rin ternyata sedalam itu."

"Ibu tidak pernah ingin mencampuri segala urusan Rin, namun satu hal yang Ibu tahu, selama dua tahun ini sudah banyak pria yang berusaha mendekati Rin, tapi Rin selalu menghindar. Rin seperti menutup diri dari pria-pria itu. Sepertinya Rin hanya menunggu seseorang. Mungkin Nak Jun tahu siapa orang yang Ibu maksud."

"Kupikir dia mengerti. Aku hanya takut persahabatan kami rusak."

"Dan tanpa Nak Jun sadari, Nak Jun sendiri yang sudah merusaknya."

"Aku? Merusaknya?"

"Nak Jun memilih bersama orang lain, menghilang tanpa kabar, tanpa alasan, tanpa kejelasan dan kepastian. Kemudian tiba-tiba muncul lagi tanpa merasa berbuat salah, seolah tak terjadi apa-apa. Andai dulu Nak Jun menjelaskan semuanya, Rin tidak mungkin sesakit itu."

"Kupikir Rin tahu kalau aku sengaja begini agar persahabatan kami tetap terjaga."

"Nak Jun tidak pernah mengatakan padanya, bagaimana dia bisa tahu?"

"Bu, Rin juga tidak pernah mengatakan tentang perasaannya padaku."

"Nak Jun, Rin itu perempuan. Tidak mungkin dia mengatakannya terlebih dahulu."

"Ini sudah jaman emansipasi wanita Bu."

"Baiklah, tidak usah menggurui Ibu tentang emansipasi."

"Maaf Bu, tidak bermaksud begitu."

"Baiklah, tidak usah bicara tentang itu. Sekarang Ibu ingin tahu, bagaimana perasaan Nak Jun sebenarnya pada Rin?"

"...................."

"Nak Jun? Kenapa diam?"

"Sebenarnya aku............"

"Kenapa?"

"Sebenarnya aku, juga.... Juga menyimpan perasaan itu Bu."

"Sejak kapan?"

"Sejak dua tahun yang lalu, ketika aku mulai bersama Nay......."


Bersambung.......