welcome to the page

welcome to the page
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 November 2015

Kata-kata AjaibMu

Aku percaya, apapun firmanNya, itu semua selalu benar adanya. Dan aku yakin, apapun yang kubaca dariNya, itulah yang tepat.

Tulisan ini adalah tulisan ajaib, kudapat dengan metode "random" (metode yang pernah diajarkan oleh Pastor Albertus Joni, SCJ sewaktu masih menjalani Tahun Orientasi Pastoral di kampusku). SabdaNya kemarin sungguh teramat tepat. Menggugah semangat.

Putra Sirakh 51 : 25 . 30 "Aku telah membuka mulutku dan berbicara, perolehlah semuanya tanpa bayaran. Lakukanlah pekerjaanmu sebelum habis waktunya, maka pada waktunya Tuhan akan memberikan upahmu."

Yesaya 55 : 8 - 11 "Sebab rancanganKu bukanlah rancanganMu, dan jalanmu bukan jalanKu, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu. Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali kesitu, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu : ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruh kepadanya."

Galatia 6 : 8 - 9 "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akab menuai, jika kita tidak menjadi lemah."


*Sungguh, aku berdoa lalu memejamkan mata ketika membukanya, hingga jariku terhenti pada satu halaman. Ia bersabda begitu indahnya. Beginilah cara amatiran untuk mendengarkan firmanNya. Metode yang pernah diajarkan padaku dulu, dan sungguh, selalu tepat untuk keadaanku saat itu. Terpujilah Engkau ya Tuhan selama-lamanya. Amin.


*Itu kata-kata ajaib untukku kemarin, untuk hari ini kita lihat nanti..*

#BumiSriwijaya, 191115, 09:17

Rabu, 18 November 2015

Jaga Nyala Apinya

Aku punya satu mimpi besar, rencana demi rencana disusun, ide-ide terlontar, langkah-langkah siap dieksekusi. Mata ini berkilat-kilat, nyala berapi-api, berkobar terlalu besar, siap menyambar, membakar. Terlalu bersemangat akan mimpi besar itu, hingga nyaris lupa bahwa kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.

"Rencana boleh jauh ke depan, pemikiran boleh melompat tinggi, tapi bukankah seharusnya kita mulai dari hal yang sederhana?"

Sontak aku terdiam, nyaris saja aku lupa akan hal itu. Beruntung kau mengingatkannya. Mimpi-mimpi besar itu membuatku terlena dan lupa. Aku lupa jika melompat terlalu tinggi tanpa pijakan yang cukup kuat, ketika jatuh tentu akan terasa sakit luar biasa. Maaf, aku melupakan konsep "kesederhanaan" itu.

"Maaf, aku khilaf. Aku terlalu bersemangat."

"Iya, tak apa. Maaf kalau perkataanku mematahkan semangatmu. Aku tidak bermaksud begitu."

"Iya, tidak apa. Justru aku berterima kasih karena sudah diingatkan. Ini ibarat kompor gas, anggaplah tadi setelan gasnya terlalu besar. Sekarang kukecilkan sedikit agar gasnya lebih hemat, supaya apinya tidak cepat mati."

"Dan kalau apinya terlalu besar, nanti makanannya gosong, malah jadi tidak bisa dimakan..."

"Hahahaa, kau benar lagi."

Analoginya seperti itu, semangat yang terlalu menggebu tidak akan baik. Jaga saja apinya agar tetap menyala, tak perlu besar, asal konsisten. "Makanan" itu akan matang pada akhirnya dan menjadi sedap untuk disantap.

#BumiSriwijaya, 181115, 23:09
*Ketika apinya terlalu berkobar*

Selasa, 17 November 2015

Hidup Adalah Belajar

Hidup adalah belajar...
Belajar memberi walau punya sedikit,
Belajar menerima meski pahit,
Belajar bersabar walau hati gemetar,
Belajar ikhlas meski sesak nafas,
Belajar tersenyum walau berat,
Belajar tertawa meski terluka...

Ini bukan tentang kemunafikan,
tapi ini soal kedamaian...
Kalau bukan diri sendiri,
siapa lagi yang akan memberi damai di hati?

#BumiSriwijaya, 171115


Senin, 16 November 2015

Jadilah Pribadi yang Unik

Sekali waktu, ketika kita sedang berbincang berdua, kau utarakan satu rasa. Gundahmu yang kian menyiksa, perasaan canggung yang selalu membuat tak leluasa. Kulihat garis wajahmu, cerah namun sendu, jauh di dalam matamu tersirat pilu.

Mengapa kita diciptakan seperti ini? Mengapa mereka begitu dan kita begini? Seperti itu yang kutangkap ketika matamu menatap mata ini. Aku terdiam, namun aku sadar, manusia memang diciptakan beraneka rupa sesuai gambaranNya. Tak perlulah lagi kau risau, karena kita indah apa adanya.

Hanya satu inginku, jadilah pribadi yang unik, yang keberadaannya selalu dinantikan, dan ketiadaannya selalu menerbitkan kerinduan. Percayalah! Kau indah begini adanya...


#BumiSriwijaya, 161115
Teruntuk adikku...

Rabu, 11 Juni 2014

Sebuah Persimpangan

Berkutat dengan pekerjaan yang kugeluti saat ini memiliki banyak suka dan dukanya. Ada banyak hal unik yang kujumpai setiap hari, bahkan ada yang sedikit menyisakan trauma. Trauma? Iya, trauma. Karena ada satu insiden yang cukup berbahaya yang terjadi dan cukup membuatku sedikit trauma.

Bayangkan, kau sedang mengendarai motor dengan kecepatan sedang, lalu melintasi sebuah persimpangan. Sialnya, kau lupa mengurangi kecepatan. Lebih sialnya lagi, kau lupa kalau rem motormu belum diservis. Lalu terjadilah insiden itu, sebuah truk pengangkut tanah melintas di simpang yang sama, datang dari arah kiri, hendak membelok ke kiri (arah yang sama dengan arah yang kau tuju). Tapi ketika melihatmu kehilangan kendali, sopir truk malah menghentikan mobilnya tepat di tengah persimpangan. Ketika kau hendak menginjak pedal rem, semua sudah terlambat, spakbor depan motormu sudah menghantam bodi samping truk itu, lalu tersangkut. Kau panik, ditambah lagi sopir truk yang dengan segera memakimu. Kau semakin panik karena mulai banyak orang yang menontonimu. Ya, hanya menontonimu, tak ada yang datang menolongmu. Cukup lama sampai akhirnya seorang temanmu yang datang menolongmu, lalu seorang yang lain menjemputmu, mengajakmu masuk ke dalam mobilnya, dan menyuruhmu minum agar segera tenang (sementara motormu yang ringsek itu dihandle oleh temanmu yang satu lagi).

Bagaimana jika kau yang jadi aku, mengalami insiden itu? Bagaimana perasaanmu? Kacau? Bingung? Malu? Sakit? Semuanya... Ya, semuanya. Sedikit menyisakan trauma. Sekarang, ketika aku melintasi simpang itu lagi, aku segera waspada, mengurangi kecepatan motorku, lalu menoleh ke kanan-kiri. Tak lupa kubunyikan klakson motorku yang suaranya membahana itu. Hanya antisipasi, jangan sampai terjadi insiden memalukan itu lagi. Memang kesalahanku, terlalu terburu-buru, kurang hati-hati, dan tidak melihat ke kanan-kiri lagi. Belajar dari kesalahan itu, aku semakin berhati-hati setiap kali akan melewati sebuah persimpangan.

Persimpangan...
Dalam hidup ini pun kita selalu berhadapan dengan persimpangan, begitu banyak pilihan yang membingungkan. Kita akan ke kanan, atau ke kiri, atau lurus? Jauh-jauh sebelum bertemu dengan persimpangan itu seharusnya kita sudah tahu hendak ke mana arah langkah kita, ke mana tujuan kita, sehingga kita dapat melangkah lebih pasti. Jangan terburu-buru. Siapa tahu dari arah lain ada yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Bila salah langkah, akan terjadi "insiden tabrakan" seperti yang kualami.

Di persimpangan akan terjadi banyak pertemuan. Di persimpangan juga akan terjadi banyak perpisahan. Karena setiap pertemuan memang akan berakhir dengan perpisahan, yang kemudian untuk mengalami pertemuan lagi, perpisahan lagi, begitu seterusnya. Hidup ini adalah seni memilih. Dalam hidup ini dunia menawaran banyak pilihan. Tinggal kita yang harus bijak dalam memilihnya.

Selasa, 10 Juni 2014

Aku, si Perasa yang Pemalas (Melankolis-Plegmatis)


Hai, cukup lama aku meninggalkan rutinitasku karena ada beberapa hal yang menurutku perlu untuk didahulukan, dan tapi pada akhirnya tetap saja tidak selesai-selesai (if you know what I mean). Jadi, setelah sekian lama aku berhenti, hari ini aku mencoba untuk mengobati rasa rinduku pada rutinitasku lagi. Yep, aku mencoba menulis lagi. So, apa yang akan kutulis? Lihat saja, tidak usah banyak komentar.

Entah kenapa beberapa waktu belakangan aku merasa seperti memiliki dua kepribadian yang bertentangan dan terperangkap dalam satu tubuh yang seolah tak berdaya. Di satu sisi aku merasa "bahagia", tapi di sisi lain aku seperti merasa "bersalah". Aku bingung, ada apa ini sebenarnya? Sampai aku berfikir, mungkin tiap manusia terlahir dengan kepribadian ganda, karena aku yakin, sebagian besar manusia di bumi ini pasti pernah mengalami satu momen "bertentangan dengan diri sendiri" (entah teori dari mana itu, hahaa). Sampai akhirnya aku memutuskan googling tentang tipikal kepribadian manusia, dan aku menemukan beberapa artikel tentang empat tipikal kepribadian manusia itu.

Tidak perlu panjang lebar aku menjelaskannya, semua orang pasti sudah paham betul tentang Sanguinis, Koleris, Plegmatis, dan Melankolis. Untuk kali ini aku hanya akan menjelaskan karakter macam apa yang "hidup" dalam diriku (yang kadang aku pun merasa sebal dengan diriku sendiri). Setelah banyak membaca artikel psikologi tentang kepribadian manusia dan mencoba menjawab psikotes-psikotes tentang kepribadian, ternyata aku adalah perpaduan antara Melankolis-Plegmatis. Dua kepribadian inilah yang sering saling bertentangan dan "berperang" dalam diriku, tinggal lihat siapa yang paling dominan dan akan "memenangkan peperangan" dalam batin.

Dalam pergaulan, aku cenderung pendiam, tidak banyak bicara, lebih suka mendengarkan, sering menarik diri, dan lebih suka bekerja di balik layar. Di sisi lain, ketika menghadapi sesuatu, aku sering berprasangka buruk, mudah curiga, negative thinking, cenderung pemilih, dan sering berekspektasi tinggi. Ketika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang diekspektasikan, maka akan mengalami kekecewaan yang luar biasa. Aku sangat suka musik dan puisi, tak heran aku lebih suka menghabiskan waktu mendengarkan musik sambil membaca tulisan-tulisan indah milik Kahlil Gibran, yang terkenal sangat puitis. Kemudian, di kondisi lainnya, aku sering merasa terlalu perasa, gampang tersinggung, lalu kemudian menikmati rasa sakitnya sendiri tanpa bisa mengungkapkannya, dan pada akhirnya hanya memendam. Aku gampang menangis, kadang hanya karena melihat sesuatu yang mungkin menurut orang-orang kebanyakan hanya hal sepele (Misal : melihat anak kucing yang mengeong-ngeong di pinggir jalan mencari induknya, hatiku bisa mendadak pilu dan mata berkaca-kaca. Pasti dianggap lebay). Aku juga sedikit sulit mengungkapkan sesuatu, misalnya aku marah pada seseorang, aku memilih diam dan memendam, jadilah seperti "pendendam". Tapi ketika aku bersama sahabat terbaikku (teman dekatku), aku seakan-akan berubah menjadi seseorang yang sangat ekstrovert, sangat terbuka, dan berapi-api menceritakan segalanya. Aku menjunjung tinggi loyalitas, ketika aku sudah merasa nyaman dengan seorang sahabat, aku akan rela melakukan apapun untuk sahabatku dan tidak pernah memperhitungkannya. Aku siap menampung curhat, mampu memberikan solusi, sangat perhatian dan siap memberikan ‘segalanya’ untuk sahabatku tanpa mengharapkan pamrih. Ini semua adalah pengaruh dari si Melankolis.

Tapi di sisi lain, si Plegmatis juga punya kendali besar dalam diriku. Aku benci perdebatan dan perselisihan, aku cenderung lebih suka mengalah, menjauh, dan menghindar bila ada suatu konflik. Bukan berarti aku payah, bukan berarti aku tak mampu menyelesaikannya, tapi karena aku tidak suka perdebatan. Aku lebih baik mengalah daripada harus berdebat. Aku cinta kedamaian (padahal konflik tanpa perdebatan tentu tak akan menemukan pemecahannya). Aku juga sangat pemalas, mudah sekali merasa malas, bila sedang semangat untuk mengerjakan sesuatu namun tiba-tiba ada yang menghambat, seketika juga aku jadi malas untuk melanjutkannya, terlalu mudah patah. Aku butuh orang-orang yang bisa memotivasiku agar bangkit lagi. Aku sangat suka menunda-nunda pekerjaan, dan pada akhirnya akan menumpuk di injury time (pinjam istilah sepakbola). Dalam pergaulan, aku paling sulit untuk mengatakan "TIDAK", padahal aku tahu hal itu bertentangan dengan hal yang semestinya. Aku paling sulit untuk menolak, apalagi bila itu sebuah permintaan dari orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, sehingga aku tidak bisa berkata "TIDAK". Bila aku mengecewakan mereka, maka aku akan merasa sangat bersalah, padahal terkadang bukan aku yang salah.

Sungguh sangat berbahaya perpaduan ini bila yang negatif sama-sama kuat menguasai lahir-batinku. Tapi aku sedang berusaha menggali potensi positif dari kedua kepribadian ini. Aku sedang belajar, aku sedang berusaha. Aku tahu, semua itu tidak bisa dihilangkan karena sudah menjadi karakterku, tetapi setidaknya bisa diubah. Perlahan tapi pasti, akan kugali sisi positif Melankolis-Plegmatis itu, aku akan mengubah diriku ke arah yang lebih baik lagi. Semua karakter kepribadian itu punya sisi positif dan negatif, semuanya baik, karena semua ciptaan Tuhan pasti baik adanya.


Selasa, 18 Maret 2014

Namanya Aksan...

Namanya Aksan. Badannya tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu tinggi, tapi kostum kerjanya (sepatu dan helm safety) selalu membuatnya terlihat gagah. Di proyek, ia dijuluki "Si Tangan Dingin". Semua mesin dan alat yang rusak pasti hidup lagi bila sudah disentuhnya. Geraknya pun lincah, tidak pernah terlihat diam di satu tempat. Dalam satu jam ia sudah berpindah tempat berkali-kali.

"San, tolong ke pasar ya, belikan engkol mesin."

"Sekarang Ndor?"

"Nggak, tahun depan. Ya sekarang lah! Pake nanya. Ini duitnya..."

"Hehee... Bercanda... Siap Ndor..."

"Pulang dari pasar lu mampir ke Toko Sinar, kemarin bos pesan bor, sudah dibayar, lu tinggal ambil aja."

"Beres Ndor. Ada lagi?"

"Sudah, itu aja."

Tak sengaja kudengar percakapan Aksan dan Mandor di depan camp-ku. Aksan masih saja bisa bercanda dengan Mandor, padahal kelihatan dari raut wajahnya kalau sebenarnya ia sedang malas disuruh-suruh.

"Mukanya jangan ditekuk gitu dong, San," teriakku dari dalam camp ketika Mandor sudah pergi.

"Siapa yang mukanya ditekuk? Orang senyum gini kok!" Aksan langsung nyengir lebar. Sangat lebar. Tapi jadi lucu karena senyum terpaksa. "Saya kan mencintai pekerjaan saya, jadi tidak boleh cemberut," sambungnya.

"Hahaa, iya deh, iya, yang cinta pekerjaannya." Aku tertawa geli melihat ekspresinya. Masih saja berusaha menghibur diri. Padahal dalam hati sedang jengkel. Bagaimana tidak jengkel? Seharian ini Mandor seperti orang kesurupan, tiba-tiba marah tak jelas, mengomel tak jelas, instruksi yang berubah-ubah (aku pun jadi ikut jengkel mendengarnya). Seluruh anak buahnya kena batunya, termasuk Aksan. Padahal Aksan adalah anak buah kesayangannya.

"Tebakan gue nih, Mandor tadi pagi habis diceramahin sama Big Boss, makanya jadi uring-uringan gak jelas gitu."

"Lho, bukannya lu bilang Mandor emang suka gak jelas tiap hari, San?"

"Iya, emang. Tapi hari ini beda dari biasanya. Anak-anak dibuat kelabakan. Si Yudi lagi benerin PC 40 disuruh ke ujung sana. Si Riko lagi di ujung malah disuruh naik. Lah gue, tadi lagi benerin mesin di ujung situ tuh, tahu-tahu dipanggil ke sini, disuruh beli engkol mesin. Tadi lu denger sendiri kan suaranya yang cetar membahana itu? Dari sini manggil bisa kedengeran sampe ke ujung situ."

"Hahaha, iya, tadi gue denger. Yang sabar ya..."

"Iya, sabar... sabar... sabaaaar..."

"AKSAAAAAN...!!! Masih belum pergi juga?!" tiba-tiba suara Mandor yang menggelegar memecah obrolan kami.

"Iya Ndor, ini juga udah mau jalan." Aksan cuma bisa tepok jidat berkali-kali. "Panjang umur banget sih tuh orang? Baru juga diomongin," gerutunya."

"Udah San, jalan sana. Kalo sekali lagi dia liat lu masih di sini bisa tambah ngomel dia."

"Iya deh, gue jalan dulu."

"Oke, hati-hati."

Sesaat kemudian, Aksan meluncur dengan gesitnya meninggalkan camp. Di sudut lain terlihat si Mandor berjalan menuju ke arah camp. Wah, bakal gak aman ini, siap-siap cari headset deh. Roman-romannya dia bakalan ngoceh-ngoceh lagi. Aku segera berlari masuk ke camp lagi.

"Heeeh, Heraa... Ngapain lu lari pas liat gue?"

Ah, sial! Dia liat.

"Kagak Ndor. Cuma mau nyari'in baut aja. Mandor kesini mau nyari baut kan?"

"Ngeles aja lu. Tapi, emang iya sih. Baut 7/16 deh, 50 set."

"Siap Ndor...!!!"

Kerasnya hidup di proyek. Tapi inilah seninya, mengajarkanku untuk hidup tangguh. Apalagi dengan perbandingan 200 : 1 begini, 200 pria dan 1 wanita, benar-benar dituntut untuk tangguh.

"Pandai-pandailah berkamuflase," setidaknya begitulah kata Aksan waktu itu. Untung saja dari 200 itu masih ada yang "normal" seperti Aksan. Kalau tidak, aku bisa benar-benar gila. Hahahaa...


*based on true story with some editing* :)

Jumat, 22 November 2013

Apa Yang Anda Pikirkan? (Litani Tanda Tanya)

apa yang anda pikirkan?
pertanyaan sederhana yang akan selalu kita temui setiap kali kita masuk ke akun jejaring sosial ini...
tapi akan ada banyak makna dan cerita di baliknya...

apa yang anda pikirkan tentang manusia lainnya?
apakah dia lebih baikkah?
ataukah dia lebih burukkah?

apa yang anda pikirkan tentang makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna?
apakah dia selalu sempurna?
apakah dia tak akan pernah punya salah?
ataukah justru anda berpikir hidup anda selalu benar dan hidupnya selalu salah?
sehingga anda berhak menghakiminya dan memvonisnya?

lalu, apakah anda pernah berpikir tentang apa yang mereka pikirkan tentang anda?
apakah anda pernah berpikir bila suatu saat apa yang anda pikirkan tentang mereka, juga adalah hal yang mereka pikirkan tentang anda?
coba renungkan, mari pikirkan bersama...
kita semua sama, sama-sama makhluk Tuhan yang paling sempurna,
jadi jangan cacati kesempurnaan itu dengan pikiran-pikiran yang tidak semestinya...


*hanya untuk orang-orang yang mengaku masih bisa berpikir*

Sabtu, 09 November 2013

Tentang Waktu...

Ketika kuberjalan sendiri, menyusuri dinginnya malam dalam ramainya kota ini, seketika kuteringat sesuatu. Tiba-tiba kuteringat tentang kalimat andalanmu, "Biarlah waktu yang akan menjawabnya...."

Iya, kau sangat suka mengatakan hal itu. Segala sesuatu yang kauhadapi, yang kaujalani semuanya kaubiarkan mengalir seperti air, mengikuti arus. Kauserahkan semuanya sepenuhnya kepada Sang Waktu. Kau begitu yakin dan percaya bahwa waktu yang akan menjawab segalanya.

Tapi bagaimana jika Sang Waktu tak ingat kata-katamu?
Bagaimana jika Sang Waktu membisu?
Bagaimana jika Sang Waktu tak mau tahu?
Bagaimana jika Sang Waktu lupa dengan janji-janjimu?
Dan bagaimana jika Sang Waktu pergi dan tak lagi kembali?
Masihkah kau percaya padanya?
Bagaimana jika segala yang pernah kau percayakan padanya tak terjawab juga?

Waktu. Ia selalu kejam, apa yang sudah terjadi tak akan pernah diulangnya lagi. Apa yang sudah diambil tak akan pernah dikembalikannya lagi. Namun Sang Waktu cukup adil. Cepat atau lambat, waktu memang akan membuktikan segalanya...

Lalu, tentang kita, yang juga kaupercayakan pada waktu, aku juga telah serahkan sepenuhnya pada Sang Waktu... Akan jadi apa kita ke depannya, biarlah sekarang kita jalani saja, biarkan mengalir seperti air, tetap berusaha sambil berdoa, dan biarlah waktu yang akan menjawab semuanya...

Rabu, 06 November 2013

Tentang Keserakahan, Tentang Arogansi...

Ini kutulis ketika panas melanda, dan pikiran kembali tertuju pada hal itu. Tentang sesuatu yang kulihat kemarin, tepat di depan mataku. Kusaksikan sendiri dengan mataku, kudengar sendiri dengan telingaku, dan kurasakan sendiri dengan hatiku.

Ini tentang keserakahan, tentang ketamakan, tentang keegoisan, tentang arogansi manusia. Semakin berkecukupan manusia, maka semakin serakahlah dia. Seolah-olah segala sesuatunya tak pernah cukup. Selalu saja kurang, kurang, dan kurang... Selalu menginginkan yang lebih, hak orang lain dirampas tanpa perasaan malu ataupun bersalah. Mungkin inilah yang dilakukan oleh para koruptor. Tak ada sedikitpun rasa takut. Semakin kaya malah semakin merasa kurang. Bahkan hukum pun bisa dibeli dengan uang mereka yang seperti tak pernah ada habisnya. Kasih Uang Habis Perkara, itu azas mereka. Segala sesuatunya jadi mudah, uang yang berbicara.

Berbanding terbalik dengan rakyat kecil. Mereka hidup benar-benar pas-pasan. Uang yang tak seberapa itu di-press sedemikian rupa, diatur sebisanya, secukup-cukupnya untuk mencukupi keutuhan sehari-hari dalam rentang waktu tertentu. Tak sedikitpun terlintas di benak mereka untuk berbuat curang. Meski sempat terlintas pun, tak sampai hati berniat untuk melakukannya. Terlalu beresiko menghadapi hukum di negeri ini. Terlalu dibuat-buat. Mereka tak punya biaya untuk memperlancar hukum dan segala urusannya. Jadi, mereka memilih bertahan saja dalam keterbatasan yang mereka punya.

Kadang terlihat tak adil, kadang terlihat seolah-olah Tuhan tidak turun tangan. Sebenarnya bukan begitu. Sebenarnya hati manusia terlalu mudah tergoda oleh rayuan setan. Padahal Tuhan sudah membuat batasan, tapi manusia malah melanggarnya. Jadi, begitulah keadaannya. Godaan setan memang terlihat lebih manis, namun pada akhirnya selalu berakhir tragis.


didedikasikan untuk para calon koruptor
koruptor kelas teri
sekecil apapun,
korupsi tetaplah korupsi...!!!

Rabu, 30 Oktober 2013

Kehilangan...

Kehilangan...

Apa definisi dari kehilangan? Siapa yang sanggup membuatmu merasa kehilangan? Setiap orang punya cerita masing-masing tentang kehilangan. Begitu juga aku dan mereka, teman-temanku.

Kami kehilangan seseorang. Manusia itu, makhluk manis, sesosok tinggi semampai dengan senyumnya yang khas. Teman-teman bilang, dia punya jargon tersendiri. "Hemmmm..." begitu katanya. Gingsulnya itu membuatnya semakin menawan.

Tapi dari kesemuanya, bukan itu point-nya. Sosoknya yang sempat lama menghilang, lalu kembali muncul, seperti membawa sebuah perubahan. Semangatnya menular bagaikan virus influenza yang dengan cepat menyebar. Serta merta aku dan teman-teman menjadi makhluk yang gesit.

Namun di tengah semangat yang membara itu, tiba-tiba dia menghilang lagi. Kali ini pergi untuk selamanya. Kenapa? Kenapa? Kami semua terpana, dan terus-terusan bertanya, kenapa? Kenapa begitu cepat? Kenapa terlalu singkat? Kenapa harus dia? Kadang rasanya tidak adil. Kadang rasanya terlalu kejam. Tapi, seburuk-buruknya yang terjadi pada manusia, jika itu kehendak Tuhan, maka itulah yang terbaik dan terindah.

Jujur, rasanya masih tak percaya, rasanya seperti mimpi. Tapi aku dan teman-teman sadar, kami tidak boleh terlalu lama terpuruk. Kami tidak boleh terlalu lama bersedih. Dia tidak pergi, dia tidak benar-benar pergi. Ketika kita merasa kehilangan dia, bukankah itu artinya dia sudah berada jauh di dalam hati kita masing-masing? Fisiknya boleh pergi, jasadnya boleh mati, tapi semangatnya selalu ada di hati... ☺


dedicated for : CORNELIUS SEPDITO SUNU VIRHANA

"Saya memiliki dua tangan, satu untuk menolong diri saya sendiri dan satunya untuk menolong orang lain..."

Jumat, 25 Oktober 2013

A Taste, Sebuah Rasa...??


kopi itu pahit,
gula itu manis,
cuka itu asam,
garam itu asin,
cabe itu pedas....
semua ada rasanya....


lalu ini apakah?
sebuah rasa jugakah?
rasa nyaman, rasa bahagia, rasa sedih, rasa kecewa...
rasa marah, rasa cemburu, rasa bangga, rasa terluka...

apakah hanya yang bisa dirasakan oleh panca indera saja yang bisa disebut rasa...??
mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit...
mereka panca indera...
lalu ini apa?
apa yang terselubung di dalam badan ini tidak disebut indera??
yang tersembunyi ini, apa?
yang paling bisa merasakan apa yang tidak dirasakan oleh indera lainnya,
apakah bukan indera?
yang dirasakan olehnya,
apakah bukan rasa...??

entah,
entah ini rasa apa...
yang kutahu, ini hanyalah sebuah rasa...

Bertahan dalam Abu-abu...

Karena aku tahu, memang ada sesuatu di balik tiap tatap matamu. Hanya saja, lagi-lagi terhalang sesuatu. Ada sesuatu yang sangat besar yang menghalanginya, hingga pada akhirnya hanya terhenti sebatas di tatapan mata dan sesungging senyuman saja. Tak perlu kau ungkapkan, tak perlu aku dengarkan, cukup hati ini merasakan, karena dari tiap tuturmu di setiap percakapan kita, dari situ aku merasakannya.



Dan tentang aku, biarlah juga kau hanya menerka-nerka. Bukankah selama ini kita bisa berjalan dalam abu-abu? Bisa tetap saling memperhatikan meski sedikit cahaya? Bila kita tetapkan kau hitam dan aku putih, maka semakin jelaslah semua, semakin nyata bahwa kita tidak akan pernah mungkin bisa. Kita sudah tahu apa yang bisa dan apa yang tak bisa dipaksa, karena kita memang tahu batasan kita, maka biarlah begini saja...






  25-10-2013, 11:22 WIB
  aku dan kamu,
  tersimpan satu cerita,
  mungkin terselip rasa...

*backsound : Your Guardian Angel - Red Jumpsuit Apparatus*

Rabu, 18 September 2013

Segelintir Kisah di Lapangan... (bisa dibilang "Wanita-wanita Hebat Part 2")


cerita ini berdasarkan fakta, bila terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, maka itu memang disengaja... :P :D
"ketika tiga wonder women harus jadi trio macan"
Rabu, 18 September 2013...

Hari ini begitu cerah, terlihat dari matahari yang terus menerus tersenyum tanpa peduli berapa banyak orang yang menggerutu karena senyumnya terlalu cerah. Mungkin bagi sebagian orang, matahari ini terlalu panas. Apalagi bagi para wanita eksekutif yang pekerjaannya hanya tahu bersolek, pasti takut dempul bedaknya luntur. Tapi hal itu tidak berlaku buatku. Walau aku wanita, tapi aku lebih suka matahari cerah seperti ini. Aku tak peduli kalau ia akan menggosongkan kulitku, ataupun melunturkan bedak tipisku, atau bahkan mungkin membuat hidungku mimisan. Yang penting, sekarang aku suka matahari yang cerah. Aku lebih suka berpanas-panas ria bersama ratusan kuli bangunan, operator alat berat, teman-teman logistik, dan teman-teman sesama pengawas.

Pada awalnya, aku tak pernah menyangka akan "terperangkap" dalam pekerjaan ini. Apalagi bila tahu akan berada di posisi ini, sangat jauh dari pikiran. Wanita-wanita waras manapun pasti akan segera menolak bila tahu pekerjaan yang ditawarkan padanya adalah sebagai "PENGAWAS LAPANGAN". Setiap hari kerjanya keliling proyek, dari blok yang satu ke blok yang lain, mengabsen semua kuli bangunan yang bekerja, mengabsen operator alat berat, mengawasi progres pekerjaan tukang, menerima barang orderan yang masuk, menghitung gaji tukang, membuat time sheet alat berat, membuat laporan bulanan progres pekerjaan, dan masih banyak lagi -yang bila kepala gudang atau project manager meminta tolong harus siap sedia-. Aku mungkin sudah gila. Dari sepuluh wanita, ada dua wanita yang kurang waras, dan aku-lah salah satunya. Oke, aku bukan satu-satunya. Di proyek ini ada dua "wanita gila" lainnya yang juga membaur dengan ratusan pria yang bekerja di lapangan. Aku meng-handle gudang blok E depan, Mbak Meli di gudang blok BC belakang, dan Mbak Novi di gudang blok DE belakang.

Jujur saja, di bulan-bulan awal aku bekerja, banyak hal yang mengganggu perasaan dan menimbulkan rasa risih. Mulai dari debu yang bertebaran (namun bila musim hujan tiba, debu itu bertransformasi menjadi lumpur yang menjijikkan), truk-truk besar yang mengerikan berlalu-lalang (namanya juga proyek gudang, wajar kalau isinya banyak truk besar dan kontainer), sampai ulah orang-orang proyek yang menjengkelkan (maklum, isi proyek kan pria semua, bisa dibayangkan bagaimana kelakuan mereka kalau ada wanita). Semua itu nyaris membuatku memilih untuk mundur. Tapi siapa sangka bila pada akhirnya aku bisa bertahan selama satu tahun? Iya, sekarang genap satu tahun sudah aku bekerja di proyek ini. Itu semua berkat "ilmu" yang diwariskan oleh Mbak Meli dan Mbak Novi. Mereka pun bisa bertahan lama bertahun-tahun karena "ilmu itu.

"Nggak susah kok Dek, nyantai aja... Cuekin aja gitu..."

"Aduh, tapi aku nggak tahan Mbak Mel, risih, takut... Gimana dong?"

"Udah Dek, kalo mereka ganggunya cuma lewat omongan mah nyantai aja, cuek aja. Selagi mereka nggak main tangan, kamu masih aman kok Dek. Iya kan Mel?"

"Iya Nov, lagian sejauh ini belum ada yang berani main tangan."

"Tapi Mbak Nov, Mbak Mel, Bapak yang satu itu lho, itu agak-agak. Tangannya mulai nakal. Nggak inget umur apa ya? Bercandanya kelewatan. Aku takut..."

"Oh iya, yang kemarin ya? Aku juga sempet liat sih. Gimana Mel?"

"Tenang aja, kemarin sore udah tak bilangin ke project manager, Nov. Bapak itu udah dapet peringatan, jadi kamu nggak usah takut lagi Dek."

"Yang bener Mbak Mel?"

"Iya Dek, tenang aja. Cuek aja, oke?"

"Kalo Bapak itu masih berani macem-macem, bilang sama aku dan Meli, biar kita berdua yang hajar..."

"Hehee, iya deh Mbak Nov, Mbak Mel, makasih ya..."

Kira-kira begitu percakapan kami setahun yang lalu waktu makan siang. Kalau jam istirahat, kami biasa makan siang bersama di kantin depan proyek. Sambil makan, kami biasa sambil bercerita, saling curhat, dan para Mbak mulai membagi "ilmu" mereka padaku.

Salah satu "ilmu" yang mereka wariskan padaku adalah yang tadi, ilmu CUEK. Mereka bilang, kerja di proyek ini kuping harus tahan, mulut harus bawel, dan otak harus lincah mikir. Satu lagi, hati harus tahan tikam. Agak hiperbola sih, tapi memang benar, mulut orang-orang di lapangan itu lebih pedas dari cabe rawit, lebih tajam dari samurai, dan lebih buas dari harimau. Kalau kupingku tak terbiasa dan hatiku gampang tersinggung, bisa dipastikan aku tidak bisa bertahan lama kerja di proyek ini.

Banyak suka dan duka yang terjadi di proyek ini. Di sini ibarat sebuah sekolah, sekolah terbuka, ini sekolah kehidupan. Inilah dunia kerja. Di sini aku banyak belajar, belajar mengaplikasikan apa yang kuterima di bangku kuliah, tapi di sisi lain aku juga belajar tentang kepribadian manusia. Di tempat ini berkumpul banyak manusia. Rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa yang tahu? Beda kepala, beda pula pemikirannya. Dari Mbak Meli dan Mbak Novi lah aku banyak belajar. Mereka yang jauh lebih dulu berkecimpung di proyek ini, tak segan-segan mengajari aku banyak hal. Dan aku bersyukur bisa mengenal dan berteman baik dengan mereka. Walau usia mereka jauh di atasku, tapi mereka tidak sungkan denganku.

Kalau dipikir-pikir, Mbak Novi dan Mbak Meli sepertinya sama "gila"nya denganku, atau mungkin bahkan lebih gila. Buktinya dulu mereka mau-mau saja masuk di lapangan dan masih betah sampai sekarang. Kalau diurutkan dari yang paling gila, mungkin yang pertama Mbak Novi. Jelas, ia wanita yang paling awal bergabung di proyek. Sebelumnya belum ada satu wanita pun yang menjadi pemanis di tengah lapangan seluas itu. Sekarang Mbak Novi dipercaya menjadi bagian logistik di gudang DE belakang.

Lalu beberapa tahun kemudian, barulah Mbak Meli bergabung. Awalnya pun mereka tak saling mengenal karena ditempatkan di lokasi yang berjauhan. Mbak Meli termasuk wanita yang tahan banting. Bayangkan, dia wanita pertama yang bergelar "pengawas". Sebelumnya belum pernah ada pengawas wanita, dan akhirnya perjalanan selama tiga tahun membuahkan hasil. Sekarang Mbak Meli sudah dipercaya untuk menjadi kepala gudang di blok BC.

Lalu September 2012, ada seorang mahasiswi yang sedang cuti kuliah mencoba peruntungannya di salah satu proyek komplek pergudangan terbesar di Palembang itu. Hanya bermodal coba-coba, ia diterima di posisi sebagai administrasi kantor. Selang dua minggu, Big Boss memanggilnya dan memindahkannya ke bagian yang lebih sesuai. Karena basic-nya arsitektur, maka ia dipindahkan ke bagian lapangan. Mahasiswi itu tak lain adalah aku. Iya, aku, mahasiswi teknik arsitektur yang bermodalkan nekat masih tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan kuliahku yang tinggal sedikit lagi.

Bukan hal yang mudah bisa bertahan sampai saat ini. Sama seperti ketika bekerja di lapangan. Ketika panas terik, kita akan terpanggang dan lokasi proyek sangat berdebu. Ketika hujan, kita akan basah kuyup dan lokasi proyek jadi berlumpur dan licin. Dalam menjalani hidup ini, kita dituntut untuk fleksibel menghadapi segala situasi. Tidak boleh mengeluh, tetap tabah menjalani. Karena semuanya adalah proses menuju kedewasaan. Lagipula, setelah setahun bertahan di proyek ini, aku bukan saja hanya sekedar bekerja, tapi di sini aku menemukan satu keluarga. Mulai dari staf kantor, seluruh staf lapangan, para pemborong, para operator alat berat, kuli-kuli bangunan, supir-supir truk, kakak-kakak security, cece pemilik kantin, para pegawai RM. Padang, sampai pegawai Alfamart. Semua yang setiap hari kujumpai di proyek ini sudah seperti keluargaku. Di proyek ini aku seperti punya keluarga kedua. Berada di proyek ini, aku seperti berada di rumah sendiri.

Kembali ke dua wanita "gila" itu. Bagiku, mereka bukan sekedar teman, tapi juga sudah seperti saudara. Mereka wanita hebat... Walau sekarang sudah amat sangat jarang bisa makan bersama karena disibukkan oleh pekerjaan masing-masing, tapi aku tidak pernah lupa menyapa mereka. Bagaimana pun juga, mereka berdua juga punya andil dalam eksistensiku di proyek ini.






thanks for all
it's dedicated for you all
PT GMS 1, PT GMS 2, PT GAS, CV Dwi Karya...
you are my family...
:) 

Senin, 09 September 2013

Roda Emas... 50 Tahun PMKRI Cabang Palembang...



sempat mati bukan berarti terhenti,
sempat terhenti pun tak juga berarti mati...
ibarat roda, mungkin kemarin harus berada di bawah,
ironisnya, ketika berada di bawah, roda kehabisan pelumas,
jadilah roda tak bergerak naik lagi...

entah berapa lama terhenti,
setelah mendengar kisah masa-masa keemasan yang terakhir,
rasanya seperti tak ada yang bisa dilakukan lagi,
setiap pergerakan dan usaha seperti tak direstui,
“pelumas” penggerak seperti tak pernah mencukupi...
entah apa yang salah...

namun kini, ketika diri ini hendak menarik diri,
terlihat ada percikan api...
mulai membakar, menggerakkan roda itu lagi...
perlahan tapi pasti, roda perlahan berputar ke atas lagi...

50 tahun bukan waktu yang sebentar kawan,
coba tengok kedua orang tua kita, berapa usia mereka?
coba tanya pada mereka, apa saja pengalaman yang mereka punya?
roda ini, 50 tahun sudah...
ketika geraknya sempat terhenti, bukan berarti tak bisa diperbaiki...
roda ini, 50 tahun sudah...
tapi perjalanannya tak akan pernah mati,
dan tak akan mati hanya sampai di sini....

Dirgahayu ke-50 PMKRI Cabang Palembang Santo Beda Yang Tekun
5 September 1963 - 5 September 2013

Rabu, 28 Agustus 2013

Dari Kecil, Aku Sudah Biasa...

dari kecil, aku sudah terbiasa hidup susah...
jadi, sudah biasa...

dari kecil, aku sudah diajarkan HIDUP SEDERHANA,
tak boleh banyak menuntut, tak boleh banyak mengeluh, tak boleh banyak meminta...
mereka berkata, "bila ada rezeki, tanpa kamu meminta pun pasti kami beri..."

dari kecil, aku sudah diajarkan HUKUM CINTA KASIH,
tak boleh membenci, tak boleh iri hati, jangan segan memberi, jangan segan berbagi...
mereka berkata, "belajarlah untuk tetap mencintai meskipun ia membencimu, itu akan jadi nilai plus untukmu..."

dari kecil, aku sudah diajarkan untuk MENGALAH,
tak boleh egois, belajarlah pedulli dengan hal-hal kecil, meski berat cobalah untuk mengalah, apalagi karena terlahir sebagai anak tertua...
mereka berkata, "ada masanya kamu memang harus mengalah, tapi itu bukan berarti kamu kalah... mengalah dengan egomu sendiri itu adalah kemenangan yang luar biasa..."

dari kecil, aku sudah diajarkan untuk TIDAK MENDENDAM,
marah itu manusiawi, kesal itu hal yang wajar, tapi tidak baik jika terus-terusan dipendam, tak baik menyimpan dendam, itu akan merusak hati...
mereka berkata, "maafkan orang-orang yang bersalah padamu, Tuhan pun mengajarkan kita untuk saling memaafkan dan mengasihi, bahkan Dia sendiri mengampuni umatNya tanpa syarat. meski berkali-kali tersakiti, tapi cobalah untuk tetap memaafkan...."

dari kecil, aku sudah diajarkan untuk BERSABAR,
orang yang sabar akan selalu menemukan keindahan tepat pada waktunya, orang yang sabar akan menuai hasil yang indah sebagai buah dari kesabaran itu...
mereka berkata, "jangan pernah berhenti untuk bersabar, karena sabar itu sesungguhnya tak ada batasnya..."



*****



di tengah bisingnya suasana, aku hanya duduk diam dan merenung, memikirkan hal-hal itu... betapa luar biasanya mereka, mereka menanamkan begitu banyak hal berharga... mungkin awalnya terasa sulit, mungkin dulu aku masih terlalu kecil untuk memahami semuanya... tapi sekarang, baru sekarang aku mulai merasakannya... sekarang, seharusnya aku sudah cukup dewasa untuk memaknai setiap perkataan mereka... dan tanpa disadari, ternyata hal-hal itu sudah tertanam begitu dalam di diri ini... meski masih ada beberapa hal yang cukup sulit untuk kulakukan, namun perlahan tapi pasti, aku pasti bisa melakukannya...

tak ada warisan maupun harta apa-apa, hanya wejangan berharga yang mereka beri untuk anak-anak mereka tercinta... kata "TERIMA KASIH" sepertinya tak akan pernah cukup untuk membalas semua kebaikan mereka, semoga dengan menjalankan amanat mereka bisa membuat mereka bahagia....



#dedicated for my beloved dad and my lovely mom...#

Sabtu, 17 Agustus 2013

Wanita-wanita Hebat (Part 1)

"Hoaaaaamh...."

Brukkk...!!

Sepulang dari kerja, aku langsung masuk ke kamar dan membanting badanku di kasur yang tidak empuk. Terdengar dari suaranya yang tidak merdu ketika tubuhku mendarat tepat di atasnya. Walau tidak empuk, tapi cukup untuk melepas lelahku setelah seharian bekerja. Kupejamkan mataku sebentar, berusaha mengosongkan pikiran, rasanya hari ini sangat melelahkan, sangat menguras tenaga. Hari ini terpaksa lembur karena ada barang masuk di gudang.

"Nduk, bangun. Ayo mandi dulu. Sudah jam setengah delapan," sebuah suara lembut membangunkanku dan membuatku tersadar, ternyata sudah satu jam aku tertidur.

"Astaga, aku ketiduran.. Maaf Bu..."

"Nggak apa-apa. Sekarang mandi dulu, itu Ibu sudah siapin air panas."

"Iya Bu, makasih."

Aku segera menuju ke kamar mandi dan langsung mengguyur seluruh badan ini dengan air hangat. Aaaah, segar rasanya. Rasanya seperti seluruh lelah di badan ini ikut luntur terguyur oleh air. Selesai mandi, badan ini pun segar lagi. Sambil mengeringkan rambut, aku berjalan menuju ruang keluarga. Gara-gara tadi ketiduran, aku sampai tak menyadari kalau ternyata rumah ini terdengar sepi. Kemana adik-adikku?

"Bu, Aryo dan Bayu kemana? Kok sepi?" tanyaku pada Ibu yang sedang duduk di sofa sambil menjahit.

"Kamu lupa ya? Malam ini kan mereka ada acara di kampus mereka? Jadi tadi sepulang menjemput Ibu dari kantor, Aryo langsung mandi dan buru-buru menyusul Bayu ke kampus. "

"Oh iya, maaf Bu, aku lupa."

Aku berjalan mendekati Ibu lalu duduk di sebelahnya. Sempat terjadi keheningan di antara aku dan Ibu. Kami larut dengan aktivitas masing-masing, aku sibuk mengeringkan rambut dengan handuk dan Ibu sibuk memasukkan benang ke jarum jahitnya. Kuperhatikan Ibu yang sepertinya mulai jengkel karena benang di tangannya tak masuk-masuk ke dalam lubang jarum.

"Susah ya Bu? Sini aku coba."

"Iya, padahal sudah pake kacamata, tapi masih nggak keliatan."

Aku mengambil jarum dan benang dari tangan Ibu. Tak sampai 5 menit, aku berhasil memasukkan benang ke dalam jarum, lalu kuserahkan pada Ibu lagi. "Ini Bu, sudah."

"Wah, cepat. Terima kasih ya Nduk."

"Sama-sama Bu."

"Inilah susahnya kalo sudah mulai tua gini. Apa-apa nggak bisa sendiri. Kalo nggak ada kamu pasti susah Nduk."

Aku hanya tersenyum. Aku terdiam. Diam-diam aku mengamati Ibu yang sudah mulai melanjutkan menjahit lagi. Kuperhatikan wajah Ibu, wajahnya memang masih cantik, tapi ternyata sudah mulai ada sedikit kerutan di dekat mata dan di keningnya. Sedangkan penglihatannya sudah tak setajam dulu. Sejak aku mulai bekerja, baru hari ini aku memperhatikan wajah Ibu sedetail ini. Biasanya sepulang kerja, aku selalu langsung masuk kamar dan sibuk dengan kegiatanku sendiri, bahkan selesai makan malam pun aku langsung masuk ke kamar lagi tanpa sempat berbincang dengan Ibu. Hubunganku dengan Ibu sekarang tidak sedekat dulu lagi.

"Aaaw..."

Aku tersentak ketika mendengar suara jeritan Ibu.

"Kenapa Bu?"

"Ini, ketusuk jarum."

"Mana Bu? Sini aku liat," kuraih tangan Ibu dan kubersihkan darahnya. Lukanya tidak terlalu dalam, darahnya juga tidak terlalu banyak. Sambil membersihkan luka di jari Ibu, aku sambil memperhatikan tangan Ibu. Tangannya yang lembut, yang dulu menggendong tubuh kecilku, kini sudah tak sekuat dan semulus dulu. Sudah mulai ada kerutan halus di punggung tangannya.

Benar, Ibu sudah tak segagah dulu. Apalagi sekarang tak ada lagi Bapak yang selalu menemani dan men-support-nya. Sejak 7 tahun lalu setelah Bapak meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya, Ibu berjuang sendirian untuk membesarkan dan menyekolahkan aku dan kedua adikku sampai selesai. Ibu berjuang sendirian, tak peduli dengan cemooh dan hinaan orang-orang. Walau banyak gunjingan, banyak celaan, namun Ibu tetap kuat, Ibu terus berjalan maju menerjang segala tantangan. Semua kesakitan, kepahitan, dan kesusahan ditanggungnya tanpa keluh kesah. Meski terkadang terlihat lelah, Ibu hanya berhenti sejenak, kemudian Ibu melanjutkan lagi. Ibu paling tidak ingin merepotkan orang lain. Selagi masih bisa dilakukan, Ibu lebih memilih melakukannya sendiri.

Ya, itulah Ibu. Dia Ibuku, Ibu yang paling kuat yang pernah kumiliki. Aku tak pernah melihat Ibu meneteskan air mata, meski hatinya yang tersakiti sekalipun. Ketika Ibu marah, Ibu hanya menumpahkan kekesalannya lewat ceritanya yang berapi-api. Ketika Ibu kecewa, Ibu hanya menumpahkannya lewat kata-katanya yang tak bersemangat. Dan ketika Ibu sedang bahagia, Ibu hanya menunjukkannya lewat rona senyum dan suara tawanya yang membahana. Itulah Ibu, Ibu Dewi Maharani, Ibunda dari Arimbi, Aryo, dan Bayu, wanita yang selalu jadi panutan untuk ketiga anaknya.

"Nduk, kamu kenapa? Kok nangis?" suara Ibu memecah lamunanku. Aku baru sadar bahwa sedari tadi aku hanya diam menatapi tangan Ibu, dan ternyata aku menangis.

"Ah, nggak apa-apa Bu."

"Jangan bohong. Ada apa? Cerita sama Ibu."

Aku hanya diam, kuhapus air mataku lalu kupandangi wajah Ibu.

"Arimbi, ada apa?"

Tak kuasa aku menahan rasa yang bergejolak dalam dada, aku langsung memeluk Ibu. Air mataku mengalir lagi, kali ini lebih deras. Hal ini malah semakin membuat Ibu bingung.

"Ibu, terima kasih," bisikku masih sambil sesengukan.

"Sama-sama Nduk. Ibu selalu ada buat kamu, buat Aryo, dan buat Bayu."

"Aku sayang sama Ibu. Maaf kalo sampai detik ini aku belum bisa buat Ibu bangga."

"Siapapun kamu, apapun yang sudah kamu lakukan sampai detik ini adalah yang dengan seizin Ibu, maka itu adalah kebanggaan Ibu... Tetaplah lakukan yang terbaik Nduk, doa Ibu menyertaimu..."

"Terima kasih Bu, terima kasih..."

Cinta seorang Ibu, kasih seorang Ibu, sayang seorang Ibu, dan doa seorang Ibu akan selalu ada untuk anak-anaknya tanpa perlu diminta. Semuanya tercurah tanpa menuntut balasan. Dan tak ada hal apapun yang cukup untuk membalas semuanya, kecuali membuatnya bangga telah melahirkan anak seperti kita.

=*=

Jumat, 02 Agustus 2013

Malam Ini...

malam ini,
lagi-lagi kumenulis,
tapi lagi-lagi kumenghapusnya...
lagi-lagi banyak yang ingin kusampaikan,
tapi lagi-lagi tak mampu kutuliskan...
berkali-kali kumenulis, namun kuhapus lagi...
lalu hanya terdiam...
tak mampu menulis apa-apa...


kemudian tersadar,
tiba-tiba layar ini penuh dengan kata-kata...
lantas, siapa yang barusan menulisnya???

#kepala mulai berat#

Senin, 29 Juli 2013

Cerita Hari Ini...

dalam waktu kurang dari 24 jam hari ini, ada tiga hal yang cukup membuatku takjub. awalnya memang risih, namun sepanjang perjalanan hari ini aku berusaha merangkumnya menjadi hal yang cukup menarik. merangkainya dalam suatu kalimat yang lucu dan pada akhirnya malah menjadi sesuatu yang indah. setidaknya, bila mengingatnya aku malah menjadi termotivasi...

  1. kesalahan selalu diselubungi dengan sesuatu yang manis, sehingga lebih menarik untuk dilakukan. sedangkan kebenaran selalu diselubungi dengan kepahitan sehingga enggan untuk dilakukan. akan tetapi, kesalahan tetaplah kesalahan, dan kebenaran tetaplah kebenaran. jadi, pilih yang mana? *hmm, aku pilih makan pare aja* #eh?
  2. bayangan, kemanapun kakimu melangkah, dia akan selalu mengikuti. kau berlari, bayangan pun mengejar. kau bersembunyi, bayangan hanya tak terlihat sesaat, ketika kau muncul maka bayangan akan di dekatmu lagi. kau tak akan mungkin jauh dari bayanganmu, maka berdamailah dengan bayanganmu. *oke, damai...* #yakin?
  3. hey, kuliah sudah libur, ngapain masih lembur....??? cepat tidur...!!! *hahaa, aku hanya merasa dunia ini milikku ketika berada sendirian di sunyinya malam, sehingga aku sering lupa waktu* #oke, ubah yang satu ini.

great...!!! ini akan jadi pelajaran berharga. ini bonus dari Tuhan, dalam sehari ada tiga pembelajaran yang kuterima. thanks God, You are AMAZING...!!!

 

Kamis, 04 April 2013

Menulis, Inilah yang Kucinta...

ternyata aku tidak cukup pintar untuk berhenti menulis...
ternyata aku tidak cukup kuat untuk tidak bercerita...
terkadang, kupikir tulisanku hanya bahasa yang kukacaukan saja...
sesuka hati tanpa makna...
semau diri menuliskannya...
tak peduli susunannya, tak hiraukan tata kramanya...
hanya semaunya, sesukanya, sembarang saja...
toh ini tulisanku, ini ekspresiku...
sebebas-bebasnya aku bercerita dalam bisu...

bukan ego atau sombong,
hanya saja beginilah aku bertutur bahasa...
kadang terlalu vulgar...
kadang terlalu liar...
kadang terlalu kasar...

aku hanya berbahasa, tak pandai bercerita,
bukan sekedar pengisi waktu senggang semata...
menulis, inilah yang kucinta...