welcome to the page

welcome to the page

Senin, 16 November 2015

Ia kembali...

Dulu lentera itu pernah benderang,
Cahayanya temaram, menghangatkan,
Sesaat ia berkobar, membakar,
Kemudian menenangkan...
Selalu menyenangkan bila berada dekat dengannya...
Sampai suatu ketika angin jahat meniupnya,
Minyak mulai habis, pemantik pun tak ada...
Ia padam, tak bernyawa,
Jiwa-jiwa di sekelilingnya seolah tak berdaya...
Suasana hening nan sepi,
Udara dingin menusuk ke ulu hati,
Lalu ia dibawa pergi, sunyi...

Sekian waktu berlalu,
Lentera itu datang lagi,
Kali ini lebih terang dari sekedar benderang,
Nyala apinya jauh dari sekedar berkobar,
Ia menyala, membakar setiap insan yang berada di dekatnya...
Kata-katanya meracuni,
Menggairahkan jiwa-jiwa yang hampir mati...

Semangat itu menyala lagi,
Mata ini menatapnya penuh binar,
Ia sudah kembali...


#BumiSriwijaya, 161115

Sabtu, 14 November 2015

Cinta Luar Biasa, Luar Biasa Cinta

Aku merasa semuanya baik-baik saja, semuanya berjalan sangat normal dan tidak ada yang salah. Aku mencintaimu dan kau (kelihatannya) juga mencintaiku. Sampai pada suatu ketika aku menyadari sesuatu. Ternyata selama ini kau tak pernah mencintaiku. Pandai sekali kau bersandiwara seolah-olah semuanya nyata. Tahukah kau itu menyakitiku?

Tidak, tentu bukan sandiwara itu yang membuatku pilu. Bukan itu. Aku tak masalah jika memang kau tak bisa mencintaiku lalu pergi bersama wanita lain. Tapi kali ini masalahnya berbeda. Setelah kau memilih bersamanya, kau juga sakiti dia dengan cara yang sama. Kau tinggalkan dia dengan alasan yang sama seperti saat kau meninggalkanku.

Dan lagi kau pergi untuk kesekian kali. Drama itu kau ulang pada wanita ketiga, dengan alasan yang sama dan cara yang sama pula. Sudah tiga wanita kaugores hatinya dengan cinta yang tak nyata.

Sungguh, bukan karena wanita lain yang membuatku hancur. Lebih dari itu, Sayang. Hatiku perih, aku masih sulit menerima kenyataan bahwa ternyata kau tak pernah bisa mencintai wanita. Kau tidak normal, Sayang. Tapi mengapa kau tak jujur saja?

Kamis, 21 Mei 2015

Teruntuk Malam

Teruntuk malam yang selalu setia menyaksikan air mataku terjatuh...

Hey, maafkan aku, semalam aku melanggar (lagi) janjiku. Maaf, kau terpaksa harus menyaksikan lagi butiran bening itu membasahi bantalku. Aku tahu, aku pernah berjanji untuk tidak akan pernah selemah itu lagi, tapi apalagi yang kubisa selain terisak menelan sendiri semuanya? Tapi terima kasih, kau masih tetap setia menemaniku. Kau menyaksikan semuanya dalam diam. Kau masih tetap memelukku dalam kelam.

Kau tahu, semuanya hanya sepele saja. Mungkin dalam diam pun kau tertawa karena tahu apa penyebabnya. Ya, hanya bercanda. Kau ingat? Aku pernah membuat kutipan "Hidup terlalu lucu untuk diseriusi, tetapi terlalu serius untuk diajak bercanda". Semalam terbukti nyata. Aku yakin dia hanya bercanda, tapi kenapa aku menganggap semuanya seserius itu? Aku kecewa, sakit sekali rasanya. Mungkin lebih tepatnya malu. Aku malu. Kau tahu kan, terkadang seseorang berusaha membuat "lawan"nya kesal hanya karena agar "komunikasi" terus berjalan, dia ingin ada "perlawanan", dia ingin terlihat "menarik", karena itulah dia bercanda. Tapi sialnya, yang diajak bercanda malah salah menafsirkan, memiliki persepsi yang berbeda, semua terasa serius, dan pada akhirnya "komunikasi" berakhir secara sepihak. Pihak yang mengakhiri "komunikasi" itu biasanya adalah pihak yang merasa "tersakiti". Seperti itulah semalam. Dia hanya bercanda, tapi menurutku itu serius. Ah, kecewa sekali rasanya. Tapi konyol, sangat konyol. Hanya sesepele itukah?

Hey, sepele dari mana? Kau juga sudah berbesar hati, memberanikan diri melawan gengsi, seperti tak punya harga diri lagi. Menurutnya juga mungkin sepele, tapi menurutmu itu sudah harga mati. Dia tidak tahu berapa lama kau mengumpulkan keberanian itu yang lagi-lagi hanya demi dia. Dia tidak tahu seberapa sering air matamu jatuh karena terlalu memikirkan dia. Semuanya karena dia, dia, dan masih selalu dia. Mungkin tak penting baginya untuk tahu, tapi mau sampai kapan kau seperti ini terus?

Tapi setelah aku juga tahu tentang yang sebenarnya, aku harus bagaimana? Aku hanya seorang manusia bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa. Selain tetap dan terus mencintainya, aku bisa apa? Memaksanya untuk membalas cintaku? Aku tidak sejahat itu... Aku hanya bisa diam, dan terus diam. Sesekali berceloteh lewat tulisan. Masih terus menganggap semuanya baik-baik saja, seperti tidak pernah ada apa-apa. Perkara dia benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu, aku sudah tidak peduli lagi. Lagipula dia juga pernah berkata "Ternyata kita tidak perlu tahu segala hal, kadang kenyataan memang menyakitkan". Ada benarnya juga, karena memang terkadang kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ah, entahlah.

Lalu apa kau tidak lelah dengan semua ini? Tidak adakah keinginanmu untuk menyudahinya? Aku tidak bisa melihatmu selalu seperti itu.

Nanti, jika waktunya berakhir, semua pasti akan berakhir.
Terima kasih karena kau masih selalu ada untukku...

Kamis, 23 April 2015

Aku Kembali

Sudah lama sekali aku tidak mencurahkan tulisanku di sini. Kalau ini adalah sebuah rumah, mungkin kau akan melihat banyak sekali sarang laba-laba yang bergelantungan di tiap sudut ruangnya. Lihatlah, tulisanku yang terakhir, bulan Juni 2014. Nyaris setahun. Selebihnya tulisanku berceceran di mana-mana. Rugi rasanya.

Terhitung hari ini, aku akan kembali ke "rumah"ku lagi. Aku akan membenahi tempat ini, mengisinya lagi dengan tulisan-tulisan. Andai tempat ini bisa bicara, pastilah dia sudah merintih, mengeluh, menangis sedih. "Kenapa lama sekali kau pergi? Aku rindu padamu..."

Ah, benar, aku rindu. Terlepas tulisan-tulisanku ini bermakna atau tidak, aku akan tetap menulis. Mengisi kembali lembaran-lembaran yang sempat kosong. Aku tidak ingin masa tuaku nanti menyesal karena ada sejarah yang tak tercatat. Terhitung hari ini, aku kembali ke sini.

Hey Jacob, I miss you so bad... :)

Rabu, 11 Juni 2014

Sebuah Persimpangan

Berkutat dengan pekerjaan yang kugeluti saat ini memiliki banyak suka dan dukanya. Ada banyak hal unik yang kujumpai setiap hari, bahkan ada yang sedikit menyisakan trauma. Trauma? Iya, trauma. Karena ada satu insiden yang cukup berbahaya yang terjadi dan cukup membuatku sedikit trauma.

Bayangkan, kau sedang mengendarai motor dengan kecepatan sedang, lalu melintasi sebuah persimpangan. Sialnya, kau lupa mengurangi kecepatan. Lebih sialnya lagi, kau lupa kalau rem motormu belum diservis. Lalu terjadilah insiden itu, sebuah truk pengangkut tanah melintas di simpang yang sama, datang dari arah kiri, hendak membelok ke kiri (arah yang sama dengan arah yang kau tuju). Tapi ketika melihatmu kehilangan kendali, sopir truk malah menghentikan mobilnya tepat di tengah persimpangan. Ketika kau hendak menginjak pedal rem, semua sudah terlambat, spakbor depan motormu sudah menghantam bodi samping truk itu, lalu tersangkut. Kau panik, ditambah lagi sopir truk yang dengan segera memakimu. Kau semakin panik karena mulai banyak orang yang menontonimu. Ya, hanya menontonimu, tak ada yang datang menolongmu. Cukup lama sampai akhirnya seorang temanmu yang datang menolongmu, lalu seorang yang lain menjemputmu, mengajakmu masuk ke dalam mobilnya, dan menyuruhmu minum agar segera tenang (sementara motormu yang ringsek itu dihandle oleh temanmu yang satu lagi).

Bagaimana jika kau yang jadi aku, mengalami insiden itu? Bagaimana perasaanmu? Kacau? Bingung? Malu? Sakit? Semuanya... Ya, semuanya. Sedikit menyisakan trauma. Sekarang, ketika aku melintasi simpang itu lagi, aku segera waspada, mengurangi kecepatan motorku, lalu menoleh ke kanan-kiri. Tak lupa kubunyikan klakson motorku yang suaranya membahana itu. Hanya antisipasi, jangan sampai terjadi insiden memalukan itu lagi. Memang kesalahanku, terlalu terburu-buru, kurang hati-hati, dan tidak melihat ke kanan-kiri lagi. Belajar dari kesalahan itu, aku semakin berhati-hati setiap kali akan melewati sebuah persimpangan.

Persimpangan...
Dalam hidup ini pun kita selalu berhadapan dengan persimpangan, begitu banyak pilihan yang membingungkan. Kita akan ke kanan, atau ke kiri, atau lurus? Jauh-jauh sebelum bertemu dengan persimpangan itu seharusnya kita sudah tahu hendak ke mana arah langkah kita, ke mana tujuan kita, sehingga kita dapat melangkah lebih pasti. Jangan terburu-buru. Siapa tahu dari arah lain ada yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Bila salah langkah, akan terjadi "insiden tabrakan" seperti yang kualami.

Di persimpangan akan terjadi banyak pertemuan. Di persimpangan juga akan terjadi banyak perpisahan. Karena setiap pertemuan memang akan berakhir dengan perpisahan, yang kemudian untuk mengalami pertemuan lagi, perpisahan lagi, begitu seterusnya. Hidup ini adalah seni memilih. Dalam hidup ini dunia menawaran banyak pilihan. Tinggal kita yang harus bijak dalam memilihnya.

Selasa, 10 Juni 2014

Aku, si Perasa yang Pemalas (Melankolis-Plegmatis)


Hai, cukup lama aku meninggalkan rutinitasku karena ada beberapa hal yang menurutku perlu untuk didahulukan, dan tapi pada akhirnya tetap saja tidak selesai-selesai (if you know what I mean). Jadi, setelah sekian lama aku berhenti, hari ini aku mencoba untuk mengobati rasa rinduku pada rutinitasku lagi. Yep, aku mencoba menulis lagi. So, apa yang akan kutulis? Lihat saja, tidak usah banyak komentar.

Entah kenapa beberapa waktu belakangan aku merasa seperti memiliki dua kepribadian yang bertentangan dan terperangkap dalam satu tubuh yang seolah tak berdaya. Di satu sisi aku merasa "bahagia", tapi di sisi lain aku seperti merasa "bersalah". Aku bingung, ada apa ini sebenarnya? Sampai aku berfikir, mungkin tiap manusia terlahir dengan kepribadian ganda, karena aku yakin, sebagian besar manusia di bumi ini pasti pernah mengalami satu momen "bertentangan dengan diri sendiri" (entah teori dari mana itu, hahaa). Sampai akhirnya aku memutuskan googling tentang tipikal kepribadian manusia, dan aku menemukan beberapa artikel tentang empat tipikal kepribadian manusia itu.

Tidak perlu panjang lebar aku menjelaskannya, semua orang pasti sudah paham betul tentang Sanguinis, Koleris, Plegmatis, dan Melankolis. Untuk kali ini aku hanya akan menjelaskan karakter macam apa yang "hidup" dalam diriku (yang kadang aku pun merasa sebal dengan diriku sendiri). Setelah banyak membaca artikel psikologi tentang kepribadian manusia dan mencoba menjawab psikotes-psikotes tentang kepribadian, ternyata aku adalah perpaduan antara Melankolis-Plegmatis. Dua kepribadian inilah yang sering saling bertentangan dan "berperang" dalam diriku, tinggal lihat siapa yang paling dominan dan akan "memenangkan peperangan" dalam batin.

Dalam pergaulan, aku cenderung pendiam, tidak banyak bicara, lebih suka mendengarkan, sering menarik diri, dan lebih suka bekerja di balik layar. Di sisi lain, ketika menghadapi sesuatu, aku sering berprasangka buruk, mudah curiga, negative thinking, cenderung pemilih, dan sering berekspektasi tinggi. Ketika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang diekspektasikan, maka akan mengalami kekecewaan yang luar biasa. Aku sangat suka musik dan puisi, tak heran aku lebih suka menghabiskan waktu mendengarkan musik sambil membaca tulisan-tulisan indah milik Kahlil Gibran, yang terkenal sangat puitis. Kemudian, di kondisi lainnya, aku sering merasa terlalu perasa, gampang tersinggung, lalu kemudian menikmati rasa sakitnya sendiri tanpa bisa mengungkapkannya, dan pada akhirnya hanya memendam. Aku gampang menangis, kadang hanya karena melihat sesuatu yang mungkin menurut orang-orang kebanyakan hanya hal sepele (Misal : melihat anak kucing yang mengeong-ngeong di pinggir jalan mencari induknya, hatiku bisa mendadak pilu dan mata berkaca-kaca. Pasti dianggap lebay). Aku juga sedikit sulit mengungkapkan sesuatu, misalnya aku marah pada seseorang, aku memilih diam dan memendam, jadilah seperti "pendendam". Tapi ketika aku bersama sahabat terbaikku (teman dekatku), aku seakan-akan berubah menjadi seseorang yang sangat ekstrovert, sangat terbuka, dan berapi-api menceritakan segalanya. Aku menjunjung tinggi loyalitas, ketika aku sudah merasa nyaman dengan seorang sahabat, aku akan rela melakukan apapun untuk sahabatku dan tidak pernah memperhitungkannya. Aku siap menampung curhat, mampu memberikan solusi, sangat perhatian dan siap memberikan ‘segalanya’ untuk sahabatku tanpa mengharapkan pamrih. Ini semua adalah pengaruh dari si Melankolis.

Tapi di sisi lain, si Plegmatis juga punya kendali besar dalam diriku. Aku benci perdebatan dan perselisihan, aku cenderung lebih suka mengalah, menjauh, dan menghindar bila ada suatu konflik. Bukan berarti aku payah, bukan berarti aku tak mampu menyelesaikannya, tapi karena aku tidak suka perdebatan. Aku lebih baik mengalah daripada harus berdebat. Aku cinta kedamaian (padahal konflik tanpa perdebatan tentu tak akan menemukan pemecahannya). Aku juga sangat pemalas, mudah sekali merasa malas, bila sedang semangat untuk mengerjakan sesuatu namun tiba-tiba ada yang menghambat, seketika juga aku jadi malas untuk melanjutkannya, terlalu mudah patah. Aku butuh orang-orang yang bisa memotivasiku agar bangkit lagi. Aku sangat suka menunda-nunda pekerjaan, dan pada akhirnya akan menumpuk di injury time (pinjam istilah sepakbola). Dalam pergaulan, aku paling sulit untuk mengatakan "TIDAK", padahal aku tahu hal itu bertentangan dengan hal yang semestinya. Aku paling sulit untuk menolak, apalagi bila itu sebuah permintaan dari orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, sehingga aku tidak bisa berkata "TIDAK". Bila aku mengecewakan mereka, maka aku akan merasa sangat bersalah, padahal terkadang bukan aku yang salah.

Sungguh sangat berbahaya perpaduan ini bila yang negatif sama-sama kuat menguasai lahir-batinku. Tapi aku sedang berusaha menggali potensi positif dari kedua kepribadian ini. Aku sedang belajar, aku sedang berusaha. Aku tahu, semua itu tidak bisa dihilangkan karena sudah menjadi karakterku, tetapi setidaknya bisa diubah. Perlahan tapi pasti, akan kugali sisi positif Melankolis-Plegmatis itu, aku akan mengubah diriku ke arah yang lebih baik lagi. Semua karakter kepribadian itu punya sisi positif dan negatif, semuanya baik, karena semua ciptaan Tuhan pasti baik adanya.


Selasa, 18 Maret 2014

Namanya Aksan...

Namanya Aksan. Badannya tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu tinggi, tapi kostum kerjanya (sepatu dan helm safety) selalu membuatnya terlihat gagah. Di proyek, ia dijuluki "Si Tangan Dingin". Semua mesin dan alat yang rusak pasti hidup lagi bila sudah disentuhnya. Geraknya pun lincah, tidak pernah terlihat diam di satu tempat. Dalam satu jam ia sudah berpindah tempat berkali-kali.

"San, tolong ke pasar ya, belikan engkol mesin."

"Sekarang Ndor?"

"Nggak, tahun depan. Ya sekarang lah! Pake nanya. Ini duitnya..."

"Hehee... Bercanda... Siap Ndor..."

"Pulang dari pasar lu mampir ke Toko Sinar, kemarin bos pesan bor, sudah dibayar, lu tinggal ambil aja."

"Beres Ndor. Ada lagi?"

"Sudah, itu aja."

Tak sengaja kudengar percakapan Aksan dan Mandor di depan camp-ku. Aksan masih saja bisa bercanda dengan Mandor, padahal kelihatan dari raut wajahnya kalau sebenarnya ia sedang malas disuruh-suruh.

"Mukanya jangan ditekuk gitu dong, San," teriakku dari dalam camp ketika Mandor sudah pergi.

"Siapa yang mukanya ditekuk? Orang senyum gini kok!" Aksan langsung nyengir lebar. Sangat lebar. Tapi jadi lucu karena senyum terpaksa. "Saya kan mencintai pekerjaan saya, jadi tidak boleh cemberut," sambungnya.

"Hahaa, iya deh, iya, yang cinta pekerjaannya." Aku tertawa geli melihat ekspresinya. Masih saja berusaha menghibur diri. Padahal dalam hati sedang jengkel. Bagaimana tidak jengkel? Seharian ini Mandor seperti orang kesurupan, tiba-tiba marah tak jelas, mengomel tak jelas, instruksi yang berubah-ubah (aku pun jadi ikut jengkel mendengarnya). Seluruh anak buahnya kena batunya, termasuk Aksan. Padahal Aksan adalah anak buah kesayangannya.

"Tebakan gue nih, Mandor tadi pagi habis diceramahin sama Big Boss, makanya jadi uring-uringan gak jelas gitu."

"Lho, bukannya lu bilang Mandor emang suka gak jelas tiap hari, San?"

"Iya, emang. Tapi hari ini beda dari biasanya. Anak-anak dibuat kelabakan. Si Yudi lagi benerin PC 40 disuruh ke ujung sana. Si Riko lagi di ujung malah disuruh naik. Lah gue, tadi lagi benerin mesin di ujung situ tuh, tahu-tahu dipanggil ke sini, disuruh beli engkol mesin. Tadi lu denger sendiri kan suaranya yang cetar membahana itu? Dari sini manggil bisa kedengeran sampe ke ujung situ."

"Hahaha, iya, tadi gue denger. Yang sabar ya..."

"Iya, sabar... sabar... sabaaaar..."

"AKSAAAAAN...!!! Masih belum pergi juga?!" tiba-tiba suara Mandor yang menggelegar memecah obrolan kami.

"Iya Ndor, ini juga udah mau jalan." Aksan cuma bisa tepok jidat berkali-kali. "Panjang umur banget sih tuh orang? Baru juga diomongin," gerutunya."

"Udah San, jalan sana. Kalo sekali lagi dia liat lu masih di sini bisa tambah ngomel dia."

"Iya deh, gue jalan dulu."

"Oke, hati-hati."

Sesaat kemudian, Aksan meluncur dengan gesitnya meninggalkan camp. Di sudut lain terlihat si Mandor berjalan menuju ke arah camp. Wah, bakal gak aman ini, siap-siap cari headset deh. Roman-romannya dia bakalan ngoceh-ngoceh lagi. Aku segera berlari masuk ke camp lagi.

"Heeeh, Heraa... Ngapain lu lari pas liat gue?"

Ah, sial! Dia liat.

"Kagak Ndor. Cuma mau nyari'in baut aja. Mandor kesini mau nyari baut kan?"

"Ngeles aja lu. Tapi, emang iya sih. Baut 7/16 deh, 50 set."

"Siap Ndor...!!!"

Kerasnya hidup di proyek. Tapi inilah seninya, mengajarkanku untuk hidup tangguh. Apalagi dengan perbandingan 200 : 1 begini, 200 pria dan 1 wanita, benar-benar dituntut untuk tangguh.

"Pandai-pandailah berkamuflase," setidaknya begitulah kata Aksan waktu itu. Untung saja dari 200 itu masih ada yang "normal" seperti Aksan. Kalau tidak, aku bisa benar-benar gila. Hahahaa...


*based on true story with some editing* :)