welcome to the page

welcome to the page

Selasa, 05 November 2013

Tuan, Izinkan Aku Mencintaimu Sebagai Saudara...

Teruntuk Tuan yang di seberang sana...

Hai Tuan, apa kabar?
Sepertinya sudah lama ya kita tidak berjumpa. Ah, tidak, bukan lama tak berjumpa, hanya sudah lama kita tidak berkomunikasi. Komunikasi, iya, komunikasi, tentang apapun, tentang segala hal. Setahuku dulu kita tidak pernah kehabisan topik pembicaraan, bahkan hal sepele pun bisa jadi bahan obrolan.

Tuan, siang ini kita berkomunikasi lagi. Yah, walau hanya sekedar lewat chatting, tapi ternyata memang sudah lama sekali kita tidak berbicara. Berawal dari obrolan santai, dibumbui dengan candaan garing, lalu kemudian pembicaraan sedikit serius, setelah itu obrolan kembali menjadi tidak karuan, dan berakhir begitu saja. Masih sama seperti dulu, kau pergi tanpa pamit. Off tiba-tiba, menghilang begitu saja.

Hei Tuan, tiba-tiba tulisanku stuck ketika terdengar bunyi notifikasi di facebookku. Ternyata kau online lagi dan membalas pesanku. Tulisanku terhenti karena bingung harus menulis apa lagi. Tuan, kadang aku bingung, dan ini bukan terjadi yang pertama kali. Berkali-kali kita melewati masa "kosong". Kita seperti menghilang, tanpa ada berita, tanpa ada cerita. Kita tak saling bertegur sapa, seperti hilang begitu saja, seperti tak saling mengenal satu sama lain. Tapi kemudian, entah apa, entah siapa yang memulai, dan entah kenapa, ketika tersadar ternyata kita sedang berkomunikasi... Berkali-kali kita berusaha pergi, dan berkali-kali kembali lagi... Ah, Tuan, itu hanya perasaanku saja, atau kau juga merasakannya?

Tuan, aku mengutip lagu salah satu grup band Indonesia, "seseorang di sana telah memilikimu... aku kan berdosa bila merindukanmu..." Tapi apakah salah jika memang aku merindukanmu? Hanya sekedar merindukanmu, bukan untuk memilikimu, tak lagi terlintas di benakku untuk memilikimu, Tuan... Tidak lagi. Ini murni hanya rindu, rindu masa-masa dulu, ketika aku masih begitu terobsesi denganmu. Iya, dulu kau menyebutku hanya terobsesi denganmu. Kau tak paham rasa itu, Tuan, karena mungkin kau tak merasakannya.

Tuan, di seberang lautan sana ada hati yang menaruh harapannya padamu. Aku tak mengenalnya, tapi kurasa kau sangat mengenalnya. Dia mengikat hatinya padamu, dan mungkin kau pun menaruh besar harapan padanya. Kuharap kali ini memang benar adanya. Kuharap kau tidak mempermainkannya. Meski ada sedikit rasa kecewaku padamu, tapi ini tak sesakit dulu. Aku mendoakan yang terbaik untukmu Tuan, semoga kau dan dia bahagia selalu.

Tuan, yang perlu kau tahu, sampai sekarang masih terekam jelas cerita kita yang telah lalu. Entah, mungkin kau tak lagi mengingatnya. Tapi bagiku, itu adalah salah satu komponen penyusun sejarahku, secuil cerita yang akan rancu bila dibuang begitu saja. Jadi, akan tetap kusimpan dengan rapi di hati kecil yang sudah tidak berbentuk ini.

Tuan, aku salut padamu, kau tidak membenciku, kau juga tidak menjauhi aku. Sikapmu padaku masih sama seperti dulu, seperti tidak terjadi apa-apa, masih biasa-biasa saja. Jadi, kalau demikian adanya, buat apa aku yang harus merasa gelisah? Sepertinya kau nyaman kita begini. Sepertinya lebih baik kalau kita tetap begini. Begini lebih bebas, begini lebih tak terbatas. Begini, kita bisa seperti saudara, bisa lebih terbuka apa adanya. Dulu memang kau membuatku jatuh cinta, tapi sepertinya kini cintanya berbeda. Tuan, kini izinkan aku mencintaimu sebagai saudara. Ajari aku mencintaimu sebagai salah satu bagian dari keluarga...

Tuan, tanpa terasa sudah banyak yang kutulis tentangmu hari ini. Ini spontanitas, Tuan. Tidak ada yang dilebih-lebihkan. Aku hanya menuliskan apa yang aku rasakan. Maaf kalau kau risih, tapi ini hanyalah ungkapan hati. Ungkapan hati yang hanya bisa kutahan bila sudah berhadapan denganmu...


dari aku
yang diam-diam masih mengingatmu... 



Kamis, 31 Oktober 2013

Aku Bukan Merindukan Arjuna... Aku Merindukan Bima...

siapa arjuna?
sesosok tampan rupawan, pemikat hati setiap wanita...
gagah perkasa, pejuang di medan Kurusetra...
pemimpin perang Bharatayuda...
tapi aku tak butuh dia...

siapa arjuna?
sesosok tokoh sentral kisah Mahabharata,
belahan jiwa Srikandi, sang Pemanah...
tapi aku tak jatuh cinta padanya...

aku disini, bukan merindukan Arjuna...
aku disini, merindukan Bima...
sosok besar tinggi perkasa yang kucinta...
Bima, sang kepala keluarga...

Bima, Arimbi-mu masih setia dalam cintanya padamu...
Bima, lihat anak-anakmu, disini merindu...
Bima, aku merindukanmu...

Rabu, 30 Oktober 2013

A Song For My Best Bro...

TAK PERNAH PADAM...

Senyumanmu masih jelas terkenang...
Hadir selalu, seakan tak menghilang dariku, ooh... dariku...
Takkan mudah kubisa melupakan segalanya,
yang telah terjadi di antara kau dan aku,
di antara kita berdua...

Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu,
kini kau telah menghilang jauh dari diriku...
Semua tinggal cerita antara kau dan aku...
Namun satu yang perlu engkau tahu,
api cintaku padamu tak pernah padam...

Kehilangan...

Kehilangan...

Apa definisi dari kehilangan? Siapa yang sanggup membuatmu merasa kehilangan? Setiap orang punya cerita masing-masing tentang kehilangan. Begitu juga aku dan mereka, teman-temanku.

Kami kehilangan seseorang. Manusia itu, makhluk manis, sesosok tinggi semampai dengan senyumnya yang khas. Teman-teman bilang, dia punya jargon tersendiri. "Hemmmm..." begitu katanya. Gingsulnya itu membuatnya semakin menawan.

Tapi dari kesemuanya, bukan itu point-nya. Sosoknya yang sempat lama menghilang, lalu kembali muncul, seperti membawa sebuah perubahan. Semangatnya menular bagaikan virus influenza yang dengan cepat menyebar. Serta merta aku dan teman-teman menjadi makhluk yang gesit.

Namun di tengah semangat yang membara itu, tiba-tiba dia menghilang lagi. Kali ini pergi untuk selamanya. Kenapa? Kenapa? Kami semua terpana, dan terus-terusan bertanya, kenapa? Kenapa begitu cepat? Kenapa terlalu singkat? Kenapa harus dia? Kadang rasanya tidak adil. Kadang rasanya terlalu kejam. Tapi, seburuk-buruknya yang terjadi pada manusia, jika itu kehendak Tuhan, maka itulah yang terbaik dan terindah.

Jujur, rasanya masih tak percaya, rasanya seperti mimpi. Tapi aku dan teman-teman sadar, kami tidak boleh terlalu lama terpuruk. Kami tidak boleh terlalu lama bersedih. Dia tidak pergi, dia tidak benar-benar pergi. Ketika kita merasa kehilangan dia, bukankah itu artinya dia sudah berada jauh di dalam hati kita masing-masing? Fisiknya boleh pergi, jasadnya boleh mati, tapi semangatnya selalu ada di hati... ☺


dedicated for : CORNELIUS SEPDITO SUNU VIRHANA

"Saya memiliki dua tangan, satu untuk menolong diri saya sendiri dan satunya untuk menolong orang lain..."

Selasa, 29 Oktober 2013

Random Love...

kamu berhak mencintai dan menyayanginya...
tapi ingat, dia tidak berkewajiban membalas mencintai atau menyayangimu...
aku menyayanginya, tak berarti harus mendapat respon yg sama darinya...
aku berhak menyayanginya, tapi dia tak wajib membalas sayangku...
dan kamu, yg menyayangiku, terima kasih sudah menyayangiku...
itu hakmu, tapi aku tak wajib membalasnya dengan cintaku....
begitu kan?
hati tak bisa dipaksa kan?
iya kan?
jawab...!!!
*hahahaaa... aduuuh, apa ini?*

Jumat, 25 Oktober 2013

A Taste, Sebuah Rasa...??


kopi itu pahit,
gula itu manis,
cuka itu asam,
garam itu asin,
cabe itu pedas....
semua ada rasanya....


lalu ini apakah?
sebuah rasa jugakah?
rasa nyaman, rasa bahagia, rasa sedih, rasa kecewa...
rasa marah, rasa cemburu, rasa bangga, rasa terluka...

apakah hanya yang bisa dirasakan oleh panca indera saja yang bisa disebut rasa...??
mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit...
mereka panca indera...
lalu ini apa?
apa yang terselubung di dalam badan ini tidak disebut indera??
yang tersembunyi ini, apa?
yang paling bisa merasakan apa yang tidak dirasakan oleh indera lainnya,
apakah bukan indera?
yang dirasakan olehnya,
apakah bukan rasa...??

entah,
entah ini rasa apa...
yang kutahu, ini hanyalah sebuah rasa...

Bertahan dalam Abu-abu...

Karena aku tahu, memang ada sesuatu di balik tiap tatap matamu. Hanya saja, lagi-lagi terhalang sesuatu. Ada sesuatu yang sangat besar yang menghalanginya, hingga pada akhirnya hanya terhenti sebatas di tatapan mata dan sesungging senyuman saja. Tak perlu kau ungkapkan, tak perlu aku dengarkan, cukup hati ini merasakan, karena dari tiap tuturmu di setiap percakapan kita, dari situ aku merasakannya.



Dan tentang aku, biarlah juga kau hanya menerka-nerka. Bukankah selama ini kita bisa berjalan dalam abu-abu? Bisa tetap saling memperhatikan meski sedikit cahaya? Bila kita tetapkan kau hitam dan aku putih, maka semakin jelaslah semua, semakin nyata bahwa kita tidak akan pernah mungkin bisa. Kita sudah tahu apa yang bisa dan apa yang tak bisa dipaksa, karena kita memang tahu batasan kita, maka biarlah begini saja...






  25-10-2013, 11:22 WIB
  aku dan kamu,
  tersimpan satu cerita,
  mungkin terselip rasa...

*backsound : Your Guardian Angel - Red Jumpsuit Apparatus*