welcome to the page

welcome to the page

Sabtu, 26 Maret 2016

Kopiku, Kopimu, Kopi Kita...

Kau suka kopi hitam tanpa gula. Katamu, gula akan merusak keaslian rasa kopinya. Kau bilang, gula akan mengganggu kesehatanmu. Kau tak suka rasa manis. Kau penikmat kopi pahit.

Aku suka kopi manis. Kadang aku menambahkan gula, kadang juga aku menambahkan susu sesukaku, semerdekaku. Menurutku, mau ditambah apapun, kopi tetaplah kopi. Rasa manis akan menambah cita rasa ketika menyantapnya. Aku penikmat kopi manis.

Kau ingat bagaimana awalnya kita berjumpa? Kejadian kesalahan order dan nomor meja di kafe itu yang mempertemukan kita, yang memaksa kita duduk bersama, untuk kemudian saling adu argumen yang tiada habisnya. Menjadi tontonan gratis bagi setiap mata yang memandangnya. Kau tetap membanggakan kopi pahitmu dan aku terus menyanjung kopi manisku.

Sampai akhirnya ketika masalah itu datang, kau berteriak meminta gula. Kau menyadari bahwa hidupmu perlu sedikit asupan gula, kau menyadari bahwa banyak hal manis di luar sana. Sementara aku yang terbiasa menikmati rasa manis, kali ini harus menangis sejadi-jadinya ketika kepahitan itu tiba.


Dear Kopi Pahit...
Kau butuh sedikit gula agar kau tahu bahwa dunia tak selalu bermuram durja... (dari Si Kopi Manis)


Dear Kopi Manis...
Sesekali kau perlu menikmati kopi pahit, agar kau tahu bahwa hidup tak selamanya manis... (dari Si Kopi Pahit)

Kamis, 19 November 2015

Kata-kata AjaibMu

Aku percaya, apapun firmanNya, itu semua selalu benar adanya. Dan aku yakin, apapun yang kubaca dariNya, itulah yang tepat.

Tulisan ini adalah tulisan ajaib, kudapat dengan metode "random" (metode yang pernah diajarkan oleh Pastor Albertus Joni, SCJ sewaktu masih menjalani Tahun Orientasi Pastoral di kampusku). SabdaNya kemarin sungguh teramat tepat. Menggugah semangat.

Putra Sirakh 51 : 25 . 30 "Aku telah membuka mulutku dan berbicara, perolehlah semuanya tanpa bayaran. Lakukanlah pekerjaanmu sebelum habis waktunya, maka pada waktunya Tuhan akan memberikan upahmu."

Yesaya 55 : 8 - 11 "Sebab rancanganKu bukanlah rancanganMu, dan jalanmu bukan jalanKu, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu. Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali kesitu, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu : ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruh kepadanya."

Galatia 6 : 8 - 9 "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akab menuai, jika kita tidak menjadi lemah."


*Sungguh, aku berdoa lalu memejamkan mata ketika membukanya, hingga jariku terhenti pada satu halaman. Ia bersabda begitu indahnya. Beginilah cara amatiran untuk mendengarkan firmanNya. Metode yang pernah diajarkan padaku dulu, dan sungguh, selalu tepat untuk keadaanku saat itu. Terpujilah Engkau ya Tuhan selama-lamanya. Amin.


*Itu kata-kata ajaib untukku kemarin, untuk hari ini kita lihat nanti..*

#BumiSriwijaya, 191115, 09:17

Rabu, 18 November 2015

Jaga Nyala Apinya

Aku punya satu mimpi besar, rencana demi rencana disusun, ide-ide terlontar, langkah-langkah siap dieksekusi. Mata ini berkilat-kilat, nyala berapi-api, berkobar terlalu besar, siap menyambar, membakar. Terlalu bersemangat akan mimpi besar itu, hingga nyaris lupa bahwa kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.

"Rencana boleh jauh ke depan, pemikiran boleh melompat tinggi, tapi bukankah seharusnya kita mulai dari hal yang sederhana?"

Sontak aku terdiam, nyaris saja aku lupa akan hal itu. Beruntung kau mengingatkannya. Mimpi-mimpi besar itu membuatku terlena dan lupa. Aku lupa jika melompat terlalu tinggi tanpa pijakan yang cukup kuat, ketika jatuh tentu akan terasa sakit luar biasa. Maaf, aku melupakan konsep "kesederhanaan" itu.

"Maaf, aku khilaf. Aku terlalu bersemangat."

"Iya, tak apa. Maaf kalau perkataanku mematahkan semangatmu. Aku tidak bermaksud begitu."

"Iya, tidak apa. Justru aku berterima kasih karena sudah diingatkan. Ini ibarat kompor gas, anggaplah tadi setelan gasnya terlalu besar. Sekarang kukecilkan sedikit agar gasnya lebih hemat, supaya apinya tidak cepat mati."

"Dan kalau apinya terlalu besar, nanti makanannya gosong, malah jadi tidak bisa dimakan..."

"Hahahaa, kau benar lagi."

Analoginya seperti itu, semangat yang terlalu menggebu tidak akan baik. Jaga saja apinya agar tetap menyala, tak perlu besar, asal konsisten. "Makanan" itu akan matang pada akhirnya dan menjadi sedap untuk disantap.

#BumiSriwijaya, 181115, 23:09
*Ketika apinya terlalu berkobar*

Selasa, 17 November 2015

Hidup Adalah Belajar

Hidup adalah belajar...
Belajar memberi walau punya sedikit,
Belajar menerima meski pahit,
Belajar bersabar walau hati gemetar,
Belajar ikhlas meski sesak nafas,
Belajar tersenyum walau berat,
Belajar tertawa meski terluka...

Ini bukan tentang kemunafikan,
tapi ini soal kedamaian...
Kalau bukan diri sendiri,
siapa lagi yang akan memberi damai di hati?

#BumiSriwijaya, 171115


Senin, 16 November 2015

Jadilah Pribadi yang Unik

Sekali waktu, ketika kita sedang berbincang berdua, kau utarakan satu rasa. Gundahmu yang kian menyiksa, perasaan canggung yang selalu membuat tak leluasa. Kulihat garis wajahmu, cerah namun sendu, jauh di dalam matamu tersirat pilu.

Mengapa kita diciptakan seperti ini? Mengapa mereka begitu dan kita begini? Seperti itu yang kutangkap ketika matamu menatap mata ini. Aku terdiam, namun aku sadar, manusia memang diciptakan beraneka rupa sesuai gambaranNya. Tak perlulah lagi kau risau, karena kita indah apa adanya.

Hanya satu inginku, jadilah pribadi yang unik, yang keberadaannya selalu dinantikan, dan ketiadaannya selalu menerbitkan kerinduan. Percayalah! Kau indah begini adanya...


#BumiSriwijaya, 161115
Teruntuk adikku...

Ia kembali...

Dulu lentera itu pernah benderang,
Cahayanya temaram, menghangatkan,
Sesaat ia berkobar, membakar,
Kemudian menenangkan...
Selalu menyenangkan bila berada dekat dengannya...
Sampai suatu ketika angin jahat meniupnya,
Minyak mulai habis, pemantik pun tak ada...
Ia padam, tak bernyawa,
Jiwa-jiwa di sekelilingnya seolah tak berdaya...
Suasana hening nan sepi,
Udara dingin menusuk ke ulu hati,
Lalu ia dibawa pergi, sunyi...

Sekian waktu berlalu,
Lentera itu datang lagi,
Kali ini lebih terang dari sekedar benderang,
Nyala apinya jauh dari sekedar berkobar,
Ia menyala, membakar setiap insan yang berada di dekatnya...
Kata-katanya meracuni,
Menggairahkan jiwa-jiwa yang hampir mati...

Semangat itu menyala lagi,
Mata ini menatapnya penuh binar,
Ia sudah kembali...


#BumiSriwijaya, 161115

Sabtu, 14 November 2015

Cinta Luar Biasa, Luar Biasa Cinta

Aku merasa semuanya baik-baik saja, semuanya berjalan sangat normal dan tidak ada yang salah. Aku mencintaimu dan kau (kelihatannya) juga mencintaiku. Sampai pada suatu ketika aku menyadari sesuatu. Ternyata selama ini kau tak pernah mencintaiku. Pandai sekali kau bersandiwara seolah-olah semuanya nyata. Tahukah kau itu menyakitiku?

Tidak, tentu bukan sandiwara itu yang membuatku pilu. Bukan itu. Aku tak masalah jika memang kau tak bisa mencintaiku lalu pergi bersama wanita lain. Tapi kali ini masalahnya berbeda. Setelah kau memilih bersamanya, kau juga sakiti dia dengan cara yang sama. Kau tinggalkan dia dengan alasan yang sama seperti saat kau meninggalkanku.

Dan lagi kau pergi untuk kesekian kali. Drama itu kau ulang pada wanita ketiga, dengan alasan yang sama dan cara yang sama pula. Sudah tiga wanita kaugores hatinya dengan cinta yang tak nyata.

Sungguh, bukan karena wanita lain yang membuatku hancur. Lebih dari itu, Sayang. Hatiku perih, aku masih sulit menerima kenyataan bahwa ternyata kau tak pernah bisa mencintai wanita. Kau tidak normal, Sayang. Tapi mengapa kau tak jujur saja?

Kamis, 21 Mei 2015

Teruntuk Malam

Teruntuk malam yang selalu setia menyaksikan air mataku terjatuh...

Hey, maafkan aku, semalam aku melanggar (lagi) janjiku. Maaf, kau terpaksa harus menyaksikan lagi butiran bening itu membasahi bantalku. Aku tahu, aku pernah berjanji untuk tidak akan pernah selemah itu lagi, tapi apalagi yang kubisa selain terisak menelan sendiri semuanya? Tapi terima kasih, kau masih tetap setia menemaniku. Kau menyaksikan semuanya dalam diam. Kau masih tetap memelukku dalam kelam.

Kau tahu, semuanya hanya sepele saja. Mungkin dalam diam pun kau tertawa karena tahu apa penyebabnya. Ya, hanya bercanda. Kau ingat? Aku pernah membuat kutipan "Hidup terlalu lucu untuk diseriusi, tetapi terlalu serius untuk diajak bercanda". Semalam terbukti nyata. Aku yakin dia hanya bercanda, tapi kenapa aku menganggap semuanya seserius itu? Aku kecewa, sakit sekali rasanya. Mungkin lebih tepatnya malu. Aku malu. Kau tahu kan, terkadang seseorang berusaha membuat "lawan"nya kesal hanya karena agar "komunikasi" terus berjalan, dia ingin ada "perlawanan", dia ingin terlihat "menarik", karena itulah dia bercanda. Tapi sialnya, yang diajak bercanda malah salah menafsirkan, memiliki persepsi yang berbeda, semua terasa serius, dan pada akhirnya "komunikasi" berakhir secara sepihak. Pihak yang mengakhiri "komunikasi" itu biasanya adalah pihak yang merasa "tersakiti". Seperti itulah semalam. Dia hanya bercanda, tapi menurutku itu serius. Ah, kecewa sekali rasanya. Tapi konyol, sangat konyol. Hanya sesepele itukah?

Hey, sepele dari mana? Kau juga sudah berbesar hati, memberanikan diri melawan gengsi, seperti tak punya harga diri lagi. Menurutnya juga mungkin sepele, tapi menurutmu itu sudah harga mati. Dia tidak tahu berapa lama kau mengumpulkan keberanian itu yang lagi-lagi hanya demi dia. Dia tidak tahu seberapa sering air matamu jatuh karena terlalu memikirkan dia. Semuanya karena dia, dia, dan masih selalu dia. Mungkin tak penting baginya untuk tahu, tapi mau sampai kapan kau seperti ini terus?

Tapi setelah aku juga tahu tentang yang sebenarnya, aku harus bagaimana? Aku hanya seorang manusia bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa. Selain tetap dan terus mencintainya, aku bisa apa? Memaksanya untuk membalas cintaku? Aku tidak sejahat itu... Aku hanya bisa diam, dan terus diam. Sesekali berceloteh lewat tulisan. Masih terus menganggap semuanya baik-baik saja, seperti tidak pernah ada apa-apa. Perkara dia benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu, aku sudah tidak peduli lagi. Lagipula dia juga pernah berkata "Ternyata kita tidak perlu tahu segala hal, kadang kenyataan memang menyakitkan". Ada benarnya juga, karena memang terkadang kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ah, entahlah.

Lalu apa kau tidak lelah dengan semua ini? Tidak adakah keinginanmu untuk menyudahinya? Aku tidak bisa melihatmu selalu seperti itu.

Nanti, jika waktunya berakhir, semua pasti akan berakhir.
Terima kasih karena kau masih selalu ada untukku...

Kamis, 23 April 2015

Aku Kembali

Sudah lama sekali aku tidak mencurahkan tulisanku di sini. Kalau ini adalah sebuah rumah, mungkin kau akan melihat banyak sekali sarang laba-laba yang bergelantungan di tiap sudut ruangnya. Lihatlah, tulisanku yang terakhir, bulan Juni 2014. Nyaris setahun. Selebihnya tulisanku berceceran di mana-mana. Rugi rasanya.

Terhitung hari ini, aku akan kembali ke "rumah"ku lagi. Aku akan membenahi tempat ini, mengisinya lagi dengan tulisan-tulisan. Andai tempat ini bisa bicara, pastilah dia sudah merintih, mengeluh, menangis sedih. "Kenapa lama sekali kau pergi? Aku rindu padamu..."

Ah, benar, aku rindu. Terlepas tulisan-tulisanku ini bermakna atau tidak, aku akan tetap menulis. Mengisi kembali lembaran-lembaran yang sempat kosong. Aku tidak ingin masa tuaku nanti menyesal karena ada sejarah yang tak tercatat. Terhitung hari ini, aku kembali ke sini.

Hey Jacob, I miss you so bad... :)

Rabu, 11 Juni 2014

Sebuah Persimpangan

Berkutat dengan pekerjaan yang kugeluti saat ini memiliki banyak suka dan dukanya. Ada banyak hal unik yang kujumpai setiap hari, bahkan ada yang sedikit menyisakan trauma. Trauma? Iya, trauma. Karena ada satu insiden yang cukup berbahaya yang terjadi dan cukup membuatku sedikit trauma.

Bayangkan, kau sedang mengendarai motor dengan kecepatan sedang, lalu melintasi sebuah persimpangan. Sialnya, kau lupa mengurangi kecepatan. Lebih sialnya lagi, kau lupa kalau rem motormu belum diservis. Lalu terjadilah insiden itu, sebuah truk pengangkut tanah melintas di simpang yang sama, datang dari arah kiri, hendak membelok ke kiri (arah yang sama dengan arah yang kau tuju). Tapi ketika melihatmu kehilangan kendali, sopir truk malah menghentikan mobilnya tepat di tengah persimpangan. Ketika kau hendak menginjak pedal rem, semua sudah terlambat, spakbor depan motormu sudah menghantam bodi samping truk itu, lalu tersangkut. Kau panik, ditambah lagi sopir truk yang dengan segera memakimu. Kau semakin panik karena mulai banyak orang yang menontonimu. Ya, hanya menontonimu, tak ada yang datang menolongmu. Cukup lama sampai akhirnya seorang temanmu yang datang menolongmu, lalu seorang yang lain menjemputmu, mengajakmu masuk ke dalam mobilnya, dan menyuruhmu minum agar segera tenang (sementara motormu yang ringsek itu dihandle oleh temanmu yang satu lagi).

Bagaimana jika kau yang jadi aku, mengalami insiden itu? Bagaimana perasaanmu? Kacau? Bingung? Malu? Sakit? Semuanya... Ya, semuanya. Sedikit menyisakan trauma. Sekarang, ketika aku melintasi simpang itu lagi, aku segera waspada, mengurangi kecepatan motorku, lalu menoleh ke kanan-kiri. Tak lupa kubunyikan klakson motorku yang suaranya membahana itu. Hanya antisipasi, jangan sampai terjadi insiden memalukan itu lagi. Memang kesalahanku, terlalu terburu-buru, kurang hati-hati, dan tidak melihat ke kanan-kiri lagi. Belajar dari kesalahan itu, aku semakin berhati-hati setiap kali akan melewati sebuah persimpangan.

Persimpangan...
Dalam hidup ini pun kita selalu berhadapan dengan persimpangan, begitu banyak pilihan yang membingungkan. Kita akan ke kanan, atau ke kiri, atau lurus? Jauh-jauh sebelum bertemu dengan persimpangan itu seharusnya kita sudah tahu hendak ke mana arah langkah kita, ke mana tujuan kita, sehingga kita dapat melangkah lebih pasti. Jangan terburu-buru. Siapa tahu dari arah lain ada yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Bila salah langkah, akan terjadi "insiden tabrakan" seperti yang kualami.

Di persimpangan akan terjadi banyak pertemuan. Di persimpangan juga akan terjadi banyak perpisahan. Karena setiap pertemuan memang akan berakhir dengan perpisahan, yang kemudian untuk mengalami pertemuan lagi, perpisahan lagi, begitu seterusnya. Hidup ini adalah seni memilih. Dalam hidup ini dunia menawaran banyak pilihan. Tinggal kita yang harus bijak dalam memilihnya.

Selasa, 10 Juni 2014

Aku, si Perasa yang Pemalas (Melankolis-Plegmatis)


Hai, cukup lama aku meninggalkan rutinitasku karena ada beberapa hal yang menurutku perlu untuk didahulukan, dan tapi pada akhirnya tetap saja tidak selesai-selesai (if you know what I mean). Jadi, setelah sekian lama aku berhenti, hari ini aku mencoba untuk mengobati rasa rinduku pada rutinitasku lagi. Yep, aku mencoba menulis lagi. So, apa yang akan kutulis? Lihat saja, tidak usah banyak komentar.

Entah kenapa beberapa waktu belakangan aku merasa seperti memiliki dua kepribadian yang bertentangan dan terperangkap dalam satu tubuh yang seolah tak berdaya. Di satu sisi aku merasa "bahagia", tapi di sisi lain aku seperti merasa "bersalah". Aku bingung, ada apa ini sebenarnya? Sampai aku berfikir, mungkin tiap manusia terlahir dengan kepribadian ganda, karena aku yakin, sebagian besar manusia di bumi ini pasti pernah mengalami satu momen "bertentangan dengan diri sendiri" (entah teori dari mana itu, hahaa). Sampai akhirnya aku memutuskan googling tentang tipikal kepribadian manusia, dan aku menemukan beberapa artikel tentang empat tipikal kepribadian manusia itu.

Tidak perlu panjang lebar aku menjelaskannya, semua orang pasti sudah paham betul tentang Sanguinis, Koleris, Plegmatis, dan Melankolis. Untuk kali ini aku hanya akan menjelaskan karakter macam apa yang "hidup" dalam diriku (yang kadang aku pun merasa sebal dengan diriku sendiri). Setelah banyak membaca artikel psikologi tentang kepribadian manusia dan mencoba menjawab psikotes-psikotes tentang kepribadian, ternyata aku adalah perpaduan antara Melankolis-Plegmatis. Dua kepribadian inilah yang sering saling bertentangan dan "berperang" dalam diriku, tinggal lihat siapa yang paling dominan dan akan "memenangkan peperangan" dalam batin.

Dalam pergaulan, aku cenderung pendiam, tidak banyak bicara, lebih suka mendengarkan, sering menarik diri, dan lebih suka bekerja di balik layar. Di sisi lain, ketika menghadapi sesuatu, aku sering berprasangka buruk, mudah curiga, negative thinking, cenderung pemilih, dan sering berekspektasi tinggi. Ketika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang diekspektasikan, maka akan mengalami kekecewaan yang luar biasa. Aku sangat suka musik dan puisi, tak heran aku lebih suka menghabiskan waktu mendengarkan musik sambil membaca tulisan-tulisan indah milik Kahlil Gibran, yang terkenal sangat puitis. Kemudian, di kondisi lainnya, aku sering merasa terlalu perasa, gampang tersinggung, lalu kemudian menikmati rasa sakitnya sendiri tanpa bisa mengungkapkannya, dan pada akhirnya hanya memendam. Aku gampang menangis, kadang hanya karena melihat sesuatu yang mungkin menurut orang-orang kebanyakan hanya hal sepele (Misal : melihat anak kucing yang mengeong-ngeong di pinggir jalan mencari induknya, hatiku bisa mendadak pilu dan mata berkaca-kaca. Pasti dianggap lebay). Aku juga sedikit sulit mengungkapkan sesuatu, misalnya aku marah pada seseorang, aku memilih diam dan memendam, jadilah seperti "pendendam". Tapi ketika aku bersama sahabat terbaikku (teman dekatku), aku seakan-akan berubah menjadi seseorang yang sangat ekstrovert, sangat terbuka, dan berapi-api menceritakan segalanya. Aku menjunjung tinggi loyalitas, ketika aku sudah merasa nyaman dengan seorang sahabat, aku akan rela melakukan apapun untuk sahabatku dan tidak pernah memperhitungkannya. Aku siap menampung curhat, mampu memberikan solusi, sangat perhatian dan siap memberikan ‘segalanya’ untuk sahabatku tanpa mengharapkan pamrih. Ini semua adalah pengaruh dari si Melankolis.

Tapi di sisi lain, si Plegmatis juga punya kendali besar dalam diriku. Aku benci perdebatan dan perselisihan, aku cenderung lebih suka mengalah, menjauh, dan menghindar bila ada suatu konflik. Bukan berarti aku payah, bukan berarti aku tak mampu menyelesaikannya, tapi karena aku tidak suka perdebatan. Aku lebih baik mengalah daripada harus berdebat. Aku cinta kedamaian (padahal konflik tanpa perdebatan tentu tak akan menemukan pemecahannya). Aku juga sangat pemalas, mudah sekali merasa malas, bila sedang semangat untuk mengerjakan sesuatu namun tiba-tiba ada yang menghambat, seketika juga aku jadi malas untuk melanjutkannya, terlalu mudah patah. Aku butuh orang-orang yang bisa memotivasiku agar bangkit lagi. Aku sangat suka menunda-nunda pekerjaan, dan pada akhirnya akan menumpuk di injury time (pinjam istilah sepakbola). Dalam pergaulan, aku paling sulit untuk mengatakan "TIDAK", padahal aku tahu hal itu bertentangan dengan hal yang semestinya. Aku paling sulit untuk menolak, apalagi bila itu sebuah permintaan dari orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, sehingga aku tidak bisa berkata "TIDAK". Bila aku mengecewakan mereka, maka aku akan merasa sangat bersalah, padahal terkadang bukan aku yang salah.

Sungguh sangat berbahaya perpaduan ini bila yang negatif sama-sama kuat menguasai lahir-batinku. Tapi aku sedang berusaha menggali potensi positif dari kedua kepribadian ini. Aku sedang belajar, aku sedang berusaha. Aku tahu, semua itu tidak bisa dihilangkan karena sudah menjadi karakterku, tetapi setidaknya bisa diubah. Perlahan tapi pasti, akan kugali sisi positif Melankolis-Plegmatis itu, aku akan mengubah diriku ke arah yang lebih baik lagi. Semua karakter kepribadian itu punya sisi positif dan negatif, semuanya baik, karena semua ciptaan Tuhan pasti baik adanya.


Selasa, 18 Maret 2014

Namanya Aksan...

Namanya Aksan. Badannya tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu tinggi, tapi kostum kerjanya (sepatu dan helm safety) selalu membuatnya terlihat gagah. Di proyek, ia dijuluki "Si Tangan Dingin". Semua mesin dan alat yang rusak pasti hidup lagi bila sudah disentuhnya. Geraknya pun lincah, tidak pernah terlihat diam di satu tempat. Dalam satu jam ia sudah berpindah tempat berkali-kali.

"San, tolong ke pasar ya, belikan engkol mesin."

"Sekarang Ndor?"

"Nggak, tahun depan. Ya sekarang lah! Pake nanya. Ini duitnya..."

"Hehee... Bercanda... Siap Ndor..."

"Pulang dari pasar lu mampir ke Toko Sinar, kemarin bos pesan bor, sudah dibayar, lu tinggal ambil aja."

"Beres Ndor. Ada lagi?"

"Sudah, itu aja."

Tak sengaja kudengar percakapan Aksan dan Mandor di depan camp-ku. Aksan masih saja bisa bercanda dengan Mandor, padahal kelihatan dari raut wajahnya kalau sebenarnya ia sedang malas disuruh-suruh.

"Mukanya jangan ditekuk gitu dong, San," teriakku dari dalam camp ketika Mandor sudah pergi.

"Siapa yang mukanya ditekuk? Orang senyum gini kok!" Aksan langsung nyengir lebar. Sangat lebar. Tapi jadi lucu karena senyum terpaksa. "Saya kan mencintai pekerjaan saya, jadi tidak boleh cemberut," sambungnya.

"Hahaa, iya deh, iya, yang cinta pekerjaannya." Aku tertawa geli melihat ekspresinya. Masih saja berusaha menghibur diri. Padahal dalam hati sedang jengkel. Bagaimana tidak jengkel? Seharian ini Mandor seperti orang kesurupan, tiba-tiba marah tak jelas, mengomel tak jelas, instruksi yang berubah-ubah (aku pun jadi ikut jengkel mendengarnya). Seluruh anak buahnya kena batunya, termasuk Aksan. Padahal Aksan adalah anak buah kesayangannya.

"Tebakan gue nih, Mandor tadi pagi habis diceramahin sama Big Boss, makanya jadi uring-uringan gak jelas gitu."

"Lho, bukannya lu bilang Mandor emang suka gak jelas tiap hari, San?"

"Iya, emang. Tapi hari ini beda dari biasanya. Anak-anak dibuat kelabakan. Si Yudi lagi benerin PC 40 disuruh ke ujung sana. Si Riko lagi di ujung malah disuruh naik. Lah gue, tadi lagi benerin mesin di ujung situ tuh, tahu-tahu dipanggil ke sini, disuruh beli engkol mesin. Tadi lu denger sendiri kan suaranya yang cetar membahana itu? Dari sini manggil bisa kedengeran sampe ke ujung situ."

"Hahaha, iya, tadi gue denger. Yang sabar ya..."

"Iya, sabar... sabar... sabaaaar..."

"AKSAAAAAN...!!! Masih belum pergi juga?!" tiba-tiba suara Mandor yang menggelegar memecah obrolan kami.

"Iya Ndor, ini juga udah mau jalan." Aksan cuma bisa tepok jidat berkali-kali. "Panjang umur banget sih tuh orang? Baru juga diomongin," gerutunya."

"Udah San, jalan sana. Kalo sekali lagi dia liat lu masih di sini bisa tambah ngomel dia."

"Iya deh, gue jalan dulu."

"Oke, hati-hati."

Sesaat kemudian, Aksan meluncur dengan gesitnya meninggalkan camp. Di sudut lain terlihat si Mandor berjalan menuju ke arah camp. Wah, bakal gak aman ini, siap-siap cari headset deh. Roman-romannya dia bakalan ngoceh-ngoceh lagi. Aku segera berlari masuk ke camp lagi.

"Heeeh, Heraa... Ngapain lu lari pas liat gue?"

Ah, sial! Dia liat.

"Kagak Ndor. Cuma mau nyari'in baut aja. Mandor kesini mau nyari baut kan?"

"Ngeles aja lu. Tapi, emang iya sih. Baut 7/16 deh, 50 set."

"Siap Ndor...!!!"

Kerasnya hidup di proyek. Tapi inilah seninya, mengajarkanku untuk hidup tangguh. Apalagi dengan perbandingan 200 : 1 begini, 200 pria dan 1 wanita, benar-benar dituntut untuk tangguh.

"Pandai-pandailah berkamuflase," setidaknya begitulah kata Aksan waktu itu. Untung saja dari 200 itu masih ada yang "normal" seperti Aksan. Kalau tidak, aku bisa benar-benar gila. Hahahaa...


*based on true story with some editing* :)

Senin, 24 Februari 2014

Kembali (The End of Story, Part 3) >> (selesai)

Aku ingin mendengar langsung Jun mengatakannya padaku, setelah itu terserah. Bila Tuhan memang menginginkan aku pulang padaNya, aku rela. Yang penting Jun sudah mengatakannya sendiri di depanku.

Dasar bodoh kau Jun! Bertahan dalam keadaan yang menyiksa seperti ini. Bodoh! Aku bisa merasakan perasaanmu itu. Hanya saja, haruskah aku yang memulainya? Tidakkah kau ingin mengatakannya sendiri? Jun! Sadar! Aku di sini selalu menunggumu. Aku masih percaya dengan kalimat andalanmu, "Biarlah waktu yang akan menjawabnya." Dan kuharap inilah waktunya.

"Rin, maafkan aku. Aku memang bodoh. Kau tahu itu? Aku bodoh. Waktu itu aku sudah mengatakannya padamu, tapi kau malah pergi meninggalkanku. Empat hari yang lalu, aku mengajakmu ke lapangan bola sekedar mengobrol, kau pun pergi lagi meninggalkanku. Aku tahu, tidak mudah bagimu untuk memaafkan aku. Tapi kali ini aku mohon, sadarlah. Maafkan aku..."

"Rin, kembalilah. Bicaralah padanya."
Tiba-tiba ada seorang pria mengenakan jubah putih berdiri di sebelahku, wajahnya berseri-seri, dan ia tersenyum padaku. Inikah Malaikat Gabriel sang Pembawa Kabar Gembira itu? Aku pun tersenyum, memandang wajahnya membuat hatiku tenang.

"Belum waktunya kau pulang, Rin. Waktumu masih panjang. Kembalilah, dan dengarkan dia berbicara."
Sesaat kemudian aku memejamkan mata, lalu cahaya putih yang begitu menyilaukan menyorot ke arahku. Semakin lama semakin benderang, semakin menyilaukan, lalu aku pun tenggelam di dalamnya.

"Rin, bangunlah, maafkan aku..."

"Aku sudah bangun, Jun. Bicaralah, aku ingin mendengarnya langsung darimu."

"Rin, kau sadar? Puji Tuhan... Bu, Rin sudah sadar..."

"Puji Tuhan, kamu sadar Nduk. Ibu panggilkan dokter dulu."

Aku tersenyum, "Bicaralah Jun, sebelum aku pergi. Waktuku tak banyak!"

"Apa maksudmu? Hei, kau baru sadar, jangan terlalu banyak bicara."

"Bicaralah sebelum aku pergi."

"Baiklah... Baiklah... Jangan pergi lagi. Aku sayang padamu. Sudah cukup dua tahun menahan perasaan ini. Sudah cukup Rin, sudah cukup."
Jun, kau menggenggam tanganku begitu erat. Empat tahun aku mengenalmu, baru kali ini aku merasakan genggaman tanganmu, begitu hangat. Andai saja kau akui dari dulu Jun, mungkin keadaan tak akan seperti ini.

"Rin, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Ingat?"

"Aku selalu mengingat kalimatmu itu. Jadi, inikah waktunya?"

"Iya, inilah waktunya. Waktu yang telah menumbuhkan perasaan itu, dan waktu telah membuktikan padaku bahwa perasaan ini tidak bisa dibohongi."

"Dan ternyata rasa sayangku tidak pernah berkurang dimakan waktu."

"Maaf ya, aku memang bodoh, terlalu takut persahabatan kita rusak."

"Bukankah dengan kasih sayang, persahabatan kita akan semakin kuat, Jun?"

"....................."

"kau hanya tersenyum, apa artinya?"

"Sudah cukup lama hatiku kehilangan sahabatnya. Kali ini tidak akan kulepas lagi. Baiklah, ini akan terdengar sedikit aneh, karena tanpa persiapan apa-apa. Tapi, bersediakah kau menjadi calon istriku?"
Aku spontan langsung mengangguk lemah karena kepalaku masih sakit. Kemudian aku hanya tersenyum sambil melirik ke arah pintu keluar, memberi kode bahwa Jun harus meminta persetujuan dari Ibu. Dan sepertinya Ibu tahu bahwa kehadirannya sangat di tunggu di momen terpenting ini. Tak lama kemudian Ibu datang sendirian. Dokter sedang bersiap-siap dahulu. Jun terlihat terburu-buru menyusul Ibu, kemudian diajaknya ke ranjang tempatku berbaring.

"Ibu, maukah Ibu menjadi calon mertuaku? Bolehkah aku menjadi menantu Ibu?"

"Tapi kalian harus selesaikan kuliah kalian dulu ya, lalu bekerja..." ucap ibu sambil tersenyum.

"Puji Tuhan.... Terima kasih Bu, terima kasih." Jun langsung mencium tangan Ibu.
Aku tersenyum lega mendengar ucapan Ibu barusan. Terima kasih Tuhan, terima kasih.

"Rin, bisakah kelak kau jangan memanjat pohon itu lagi? Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa padamu. Aku tidak mau kau sampai terjatuh lagi."

"Kalau aku tidak pernah naik ke puncak pohon markasmu itu, pasti aku tidak akan seberani tadi untuk mendesakmu dan membuatmu mengaku."

"Jangan-jangan kau...."

"Iya, sudah kubaca semua... Terima kasih ya..."

"Curang... hahaa... Tapi tidak apa-apa, akhirnya kau berhasil melawan rasa takutmu terhadap ketinggian."

"Dan itu kau tulis tepat di tanggal 14 Februari, dua tahun lalu, sebelum kau tiba-tiba pergi menghilang tanpa kabar."

"Sudah Rin, sudah. Tidak usah dibahas lagi. Sekarang kan sudah selesai...."

"Iya, sudah selesai."

"Permisi, maaf ya Mas, bisa tolong tunggu di luar sebentar, pasiennya mau diperiksa dulu."

Perawat dan dokter datang untuk memeriksa keadaanku. Jun melepaskan genggaman tangannya dari tanganku sambil tersenyum, tapi aku menahannya.

"Jun, jangan pergi!"

"Aku tidak akan pergi lagi Rin, aku akan menunggumu di luar. Percayalah."

"Iya, aku percaya."

Aku masih sangat ingat kalimat andalanmu Jun, dan karena itulah aku masih bersabar menunggumu. Ketika kubaca tulisanmu di pohon itu, maka semakin yakinlah bahwa kali ini kau memang kembali untukku.

Biarlah waktu yang menjawabnya...
Maafkan aku yang tidak berani mengaku...
Bila memang berjodoh, cepat atau lambat pasti kembali, Rin...
Untuk kali ini, maafkan aku...
Aku sayang padamu...
Dan biar hanya aku, Tuhan, dan pohon ini yang tahu...
(Jun -14022012-)

"Dokter, sekarang hari apa?"

"Jumat."

"Tanggal berapa?"

"14 Februari"

Aku pun tersenyum...
Tepat dua tahun yang lalu...
Terima kasih, Arjuna...

#THE END#

Kembali (The End of Story, Part 2)


"Sebenarnya aku, juga.... Juga menyimpan perasaan itu Bu."
"Sejak kapan?"
"Sejak dua tahun yang lalu, ketika aku mulai bersama Nay......."

"Jadi?"

"Iya, kali ini aku akan mengaku. Aku benar-benar bodoh. Aku sudah berbuat kesalahan. Dua tahun aku bersama Nay, berusaha menepis semua perasaan pada Rin, tapi justru hati dan pikiranku malah tertuju pada Rin. Bersama Nay, aku tidak bisa jadi diriku sendiri. Bersama Nay, aku merasa tidak leluasa. Bahkan teman-temanku bilang bahwa sejak bersama Nay aku malah menjadi seperti orang lain. Aku bodoh Bu, aku terlalu takut untuk mengakui kalau hati ini juga merasakan apa yang Rin rasakan. Aku takut nanti malah memperburuk keadaan."

"Nak Jun, seharusnya Nak Jun tidak perlu ragu dengan perasaan itu. Tidakkah Nak Jun merasakan ketulusan Rin? Maaf, bukan Ibu ingin ikut campur, tapi kali ini Ibu memang tidak bisa membiarkan keadaan ini. Lihat Rin sekarang, hanya terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan koma, sudah tiga hari dan entah kapan akan sadar."

"Maafkan aku Bu, maafkan aku..."
Kulihat Ibu meneteskan air mata. Wajahnya memang terlihat tegar, tapi air mata itu adalah bukti bahwa sebenarnya Ibu juga rapuh. Jun pun akhirnya tak bisa membendung lagi, air matanya mengalir deras. Baru kali ini aku melihat Jun seemosional itu. Lalu kemudian, aku merasa pipiku juga basah. Kenapa aku ikut menangis? Aku lelah, aku ingin istirahat. Namun betapa kagetnya aku ketika membalikkan badan dan mendapati tubuhku sedang terbaring di ranjang. Aku segera mendekati, kemudian melihat, aku terlihat sangat pucat, dan ada banyak alat yang tersambung di tubuhku. Aku keluar dari ragaku? Oh, tidak! Jangan! Jangan sekarang. Aku belum mau mati. Aku ingin mendengar langsung Jun mengatakannya padaku, setelah itu terserah. Bila Tuhan memang menginginkan aku pulang padaNya, aku rela. Yang penting Jun sudah mengatakannya sendiri di depanku.



Bersambung......

Kembali (The End of Story, Part 1)

Kini aku duduk di antara mereka berdua, tapi aneh, mereka tak menyadari keberadaanku. Aku seperti tak terlihat. Tunggu, ini seperti di alam lain. Aku berdiri, kemudian melambaikan tanganku di depan wajah mereka satu persatu, tapi ternyata mereka tetap tidak melihatku. Kali ini aku mencoba menyentuh mereka, tapi betapa kagetnya aku ketika tanganku malah menembusi tubuh mereka. Tidak! Ini tidak mungkin. Tidak mungkin aku sudah mati. Aku panik, semakin menggila, aku malah berusaha memukul-mukul mereka, tetap tidak bisa. Kemudian aku mencari sesuatu, apapun itu, untuk bisa kusentuh, untuk memberi tanda bahwa aku ada di antara mereka. Sial! Aku masih tetap tidak bisa. Aku putus asa, lalu aku mencoba duduk lagi, berusaha mengatur nafasku, mencoba untuk tenang. Aku ingin mendengarkan percakapan mereka.

"Maaf, Bu. Maafkan aku."

"Sudahlah Nak Jun, tidak ada yang perlu dimaafkan, tidak ada yang perlu disesali. Semua sudah terjadi."

"Aku tidak pernah menyangka kalau perasaan Rin ternyata sedalam itu."

"Ibu tidak pernah ingin mencampuri segala urusan Rin, namun satu hal yang Ibu tahu, selama dua tahun ini sudah banyak pria yang berusaha mendekati Rin, tapi Rin selalu menghindar. Rin seperti menutup diri dari pria-pria itu. Sepertinya Rin hanya menunggu seseorang. Mungkin Nak Jun tahu siapa orang yang Ibu maksud."

"Kupikir dia mengerti. Aku hanya takut persahabatan kami rusak."

"Dan tanpa Nak Jun sadari, Nak Jun sendiri yang sudah merusaknya."

"Aku? Merusaknya?"

"Nak Jun memilih bersama orang lain, menghilang tanpa kabar, tanpa alasan, tanpa kejelasan dan kepastian. Kemudian tiba-tiba muncul lagi tanpa merasa berbuat salah, seolah tak terjadi apa-apa. Andai dulu Nak Jun menjelaskan semuanya, Rin tidak mungkin sesakit itu."

"Kupikir Rin tahu kalau aku sengaja begini agar persahabatan kami tetap terjaga."

"Nak Jun tidak pernah mengatakan padanya, bagaimana dia bisa tahu?"

"Bu, Rin juga tidak pernah mengatakan tentang perasaannya padaku."

"Nak Jun, Rin itu perempuan. Tidak mungkin dia mengatakannya terlebih dahulu."

"Ini sudah jaman emansipasi wanita Bu."

"Baiklah, tidak usah menggurui Ibu tentang emansipasi."

"Maaf Bu, tidak bermaksud begitu."

"Baiklah, tidak usah bicara tentang itu. Sekarang Ibu ingin tahu, bagaimana perasaan Nak Jun sebenarnya pada Rin?"

"...................."

"Nak Jun? Kenapa diam?"

"Sebenarnya aku............"

"Kenapa?"

"Sebenarnya aku, juga.... Juga menyimpan perasaan itu Bu."

"Sejak kapan?"

"Sejak dua tahun yang lalu, ketika aku mulai bersama Nay......."


Bersambung.......

Pohon di Tepi Lapangan Bola

Aku bodoh, kenapa kemarin aku menghindar dari Jun? Padahal sebenarnya hati ini sangat merindukannya. Wajar bila para pria sering mengatakan bahwa gengsi seorang wanita terlalu tinggi. Aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Tapi, aku berhak menghindar darinya. Aku sudah terlalu lelah. Dia pergi begitu saja, tanpa alasan, tanpa pesan, lalu kini dia kembali seenaknya seperti tidak terjadi apa-apa dan ingin keadaan tetap sama seperti sedia kala. Enak saja! Ini hati, Bung, bukan halte yang didatangi untuk pergi lagi, dan kemudian datang lagi untuk pergi lagi. Sudah cukup!

Sore ini aku memutuskan untuk kembali ke lapangan bola lagi untuk mengobati rasa rindu itu. Lapangan bola ini adalah salah satu tempat yang dulu sering kami kunjungi. Dulu aku sangat suka duduk di bawah pohon akasia ini lalu menyandarkan tubuh di batangnya yang kokoh. Sementara Jun lebih memilih memanjat ke puncaknya.

"Di sini lebih enak, tidak ada yang bisa menggangguku, tidak ada yang tahu apa yang kulakukan di sini..."

"Kau menyindirku! Mentang-mentang aku sering mengganggumu..."

"Baguslah kalau kau merasa. Hehehee..."

"Sial! Tunggu kau ya! Aku akan naik kesitu dan menjitakmu!"

"Sudah, jangan sok berani, aku tahu kau takut ketinggian. Nanti kau jatuh."

"Nah, sekarang kau mengejekku!"

"Hahahahaaa... sayang sekali kau tidak bisa naik ke sini. Padahal dari sini kau bisa melihat banyak hal yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Pemandangannya indah..."

"Bawa aku naik!"

"Oh, tidak bisa. Kau harus naik sendiri."

"Dasar pelit! Oke, suatu saat aku pasti akan naik kesitu."

Itu percakapan kami tiga tahun yang lalu. Mungkin inilah saatnya aku harus naik. Jujur saja, mungkin bagi Jun tingginya tak seberapa, tapi bagiku tempatnya memang terlihat sangat tinggi, dan aku masih saja takut ketinggian. Tapi tidak apa. Aku harus bisa melawan rasa takutku. Aku ingin melihat pemandangan yang indah itu. Mungkin sekarang tak lagi seindah dulu. Andai keadaannya masih seperti dulu, pasti akan lebih indah.

Langkah pertama, kedua, ketiga, dan terus sampai kesepuluh. Aku berhasil memanjati batang pohon ini, sudah separuh jalan. Ternyata tidak begitu sulit. Hanya saja ketika kulihat ke bawah, astaga..... sudah cukup tinggi. Dan ketika kulihat ke atas ternyata masih jauh. Mungkin masih butuh sekitar sepuluh langkah lagi untuk sampai di atas. Kulanjutkan langkahku, tak peduli lagi dengan ketinggian. Enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Hap! Akhirnya sampai juga. Ternyata di puncak pohon ini ada papan yang disusun menyerupai pos pengintai.Tidak terlalu luas, mungkin hanya sekitar satu meter persegi, tapi sangat nyaman. Pantas saja Jun betah berlama-lama di sini, ternyata memang sangat menyenangkan. Sesaat aku duduk dan bersandar di batang pohon ini, menikmati angin sepoi-sepoi dan suara burung berkicau.

Namun detik berikutnya perhatianku tertuju  pada sesuatu yang ada di batang pohon ini. Kulihat batang pohon ini dikikis, kulitnya dikelupas, dan ada tulisan tangan seseorang di batang yang terkelupas itu. Di bagian bawahnya tertulis "Jun - 14022012". Ternyata itu tulisan Jun. Kemudian aku mulai membacanya. Betapa kagetnya aku ketika membaca tulisan Jun. Hatiku langsung terasa ngilu, detak jantungku tak karuan, dan kepalaku mendadak pusing. Aku kehilangan keseimbangan, lalu semuanya mendadak berubah menjadi gelap.

"BRUUUK...!!!"
Hanya itu yang kudengar. Lalu selebihnya aku tak ingat apa-apa. Hanya gelap, gelap, dan gelap.

Matahari Senja

senja itu, di tepi lapangan bola...

"aku lelah, baru pulang kerja, kau mau apa Jun?"
"hanya ingin mengobrol denganmu, Rin..."
"hanya itu?"
"Iya..."
"Kalau begitu, maaf. Mungkin lain waktu."
"Tunggu sebentar, Rin."
"Aku lelah, Jun. Butuh istirahat."
"Duduklah sebentar di sini bersamaku, menikmati langit sore ini."
"Untuk apa lagi?"
"Tidak, tidak ada maksud apa-apa."
"Kau selalu begitu!"
"Apanya?"
"Iya, kau selalu begitu, selalu tanpa alasan yang jelas."
"Kau pun begitu. Semua hal selalu butuh alasan."
"Tentu! Kau hidup di dunia ini pun karena ada alasannya."
"Apa?"
"Karena kau dilahirkan, dan karena kau belum mati."
"Lalu sekarang, kau inginkan alasan apa?"
"Bisakah kau jelaskan tentang ini semua?"
"Tentang apa?"
"Tentang kita... Ini kau sebut apa?"
"....."
"Mengapa begini?"
"....."
"Hey, aku bicara padamu Jun... Jawab aku..."
"....."
"Bagus, kau hanya diam, semakin jelas..."
"Tunggu Rin, aku bisa jelaskan..."
"Ayo jelaskan, sudah terlalu lama aku menunggu penjelasanmu..."
"Aku hanya bingung bagaimana menjelaskannya."
"Sekarang begini saja, aku hanya ingin tahu, berapa lama lagi aku harus begini?
"Begini apanya?"
"Atau... Beri aku alasan yang tepat, mengapa aku harus seperti ini?"
"Tunggu Rin, sebenarnya kau sedang membicarakan apa?"
"Kau pura-pura bodoh atau sengaja ingin membodohiku, Jun?"
"........"
"Kau diam lagi. Baiklah kalau begitu. Cukup sampai disini."
"Rin..."
Aku muak..."
"Rin..."
"Sudah, aku mau pulang, aku lelah, silahkan nikmati sendiri matahari senjamu itu..."
"Rin.....!!!!"
"Terima kasih untuk ketidak-pastianmu selama ini. Kau menang, aku menyerah, dan sekarang aku ingin pulang..."
"....."

matahari senja tetap di sana, seakan tak ingin berlama-lama menyaksikan mereka, semakin mempercepat lajunya.... gelap pun segera meraja...

Entah...

hei, tuan, sekarang aku seperti kehilangan semangat... tak ada lagi keinginanku untuk melakukan kebiasaan kita dulu... mungkin kau masih melakukannya, mungkin juga tidak, aku tak tahu... tapi yang pasti, aku tak mau lagi... kini aku hanya ingin tetap menjadi diri sendiri, yang sejak sebelum, saat, dan tak lagi mengenalmu, aku selalu menulis... jadi, biarkan aku menulis, hanya menulis.... menuliskan semuanya...

aku hanya akan menulis bahwa dulu kita selalu menonton arsenal bertanding, walau di rumah masing-masing dan hanya berkomunikasi lewat telepon saja...
aku hanya akan menulis bahwa dulu kita juga selalu menonton stand up comedy bersama, dan masih di rumah masing-masing, lalu kita tertawa bersama...
dan aku hanya akan menulis bahwa dulu kita sangat suka mendengarkan lagu the messenger milik linkin park karena liriknya sangat mengena...
oh iya, aku nyaris lupa, dulu kita juga sering tanding bilyard via online, iya kan?
kau selalu berhasil mengalahkanku, sampai akhirnya kau kasihan dan memilih mengalah agar aku menang...
itu pun kalau kau ingat...
kalau tak ingat juga tak apa, aku hanya akan menuliskannya, tak akan lagi kita mengulangnya...

tuan, aku hanya ingin semangat baru...
bisakah hal-hal yang akan kulakukan nanti tidak perlu mengingatkanku padamu?
bagaimana aku bisa lupa bila semua hal yang kulakukan ternyata adalah kebiasaan kita dulu?
aku tahu,
semuanya hanya akan jadi kenangan...
entah, apa kau juga mengenangnya?
atau hanya kau anggap angin lalu saja?
entah...

Dua Tahun Berlalu

ketika itu senja, kita duduk di tempat yang sudah lama sekali tidak pernah kita kunjungi... kita hanya berdua, iya, hanya berdua, seperti waktu itu... seperti dua tahun yang lalu... lalu kau membuka percakapan kita...

"sudah lama sekali kita tidak kesini... tapi tempat ini tidak ada yang berubah... masih sama seperti terakhir kita kunjungi..."

"iya, masih sama...."

"apa kabarmu? sudah dua tahun kita tidak bertemu, aku kehilangan kabarmu..."

"seperti yang kau lihat sekarang."

"kau terlihat baik..."

"ya, begitulah..."

"tapi kau sedang tidak baik. aku tahu itu."

"sok tahu..."

"sudahlah, jangan ketus, hari ini aku meminta bertemu denganmu bukan untuk ribut..."

"lantas untuk apa lagi? bukankah kau sudah memilih untuk menjauh? dan aku sengaja tidak menghubungimu lagi agar kau tenang menjalani kehidupan barumu... lalu sekarang? untuk apa kau kembali lagi?"
aku terbawa emosi, segera saja aku meluncurkan kalimat yang cukup pedas. itu semua di luar kendali, aku sendiri tak sadar kenapa aku bisa mengucapkan kalimat itu. sungguh, emosi yang sedang menguasaiku saat itu. dan kau pun terdiam sesaat...

"aku rindu padamu..."

"omong kosong..."

"aku serius...  aku merindukan kebersamaan kita yang dulu... "

"jadi begini sikapmu di belakangnya...? sudahlah, jangan memberi harapan-harapan kosong lagi padaku, aku sudah lelah... cukup..."

"aku dan dia sudah putus..."
kali ini aku yang terdiam, tersentak mendengar kalimatmu barusan. masih setengah tak percaya dengan apa yang kudengar. aku tak yakin, tapi sepertinya memang begitulah yang kudengar. lalu selanjutnya aku pun bingung, apakah harus senang atau sedih mendengarnya....

"ada sesuatu yang beda. aku pun bingung itu apa. aku memang sayang padanya, tapi entah kenapa dua tahun berjalan, rasanya begitu hampa, seperti ada yang hilang. teman-temanku bilang, sejak bersamanya aku jadi berubah. aku sendiri tak mengerti apa yang salah. dia pun bilang begitu, semakin lama aku semakin aneh."

"apa? kau ini bicara apa?"

"dengarkan saja dulu..."

"apa aku masih punya hak untuk mendengar? bukankah dulu kau memilih dia pun aku tak pernah tahu alasannya..."

"sudah, jangan ketus lagi, terserah apa katamu, yang jelas sekarang dengarkan saja dulu..."

"terserah kau..."

"hmmmh, baiklah, kuakui, dua bulan terakhir adalah yang terparah, aku mulai dingin dengannya, dan ternyata aku mulai menjauhinya. yang ada di pikiranku saat itu hanya kau... aku mulai seperti orang gila..."

"kenapa? bukankah kau memang gila?"

"iya, aku gila. aku baru sadar kalau aku meninggalkanmu, melupakanmu begitu saja tanpa kalimat perpisahan... tanpa alasan..."

"untuk apa? bukankah memang tak perlu? aku bukan siapa-siapa... aku hanya orang yang dulu begitu terobsesi mengejar-ngejar kau... yang kemudian kau tinggalkan setelah kau beri banyak harapan..."

"aku salah... maafkan aku...."
lalu kita terdiam lagi, larut dengan pikiran masing-masing... di satu sisi aku bahagia, ternyata jauh di dalam hatimu, aku punya tempat yang spesial. tapi di sisi lain, aku juga kecewa. kau tak punya ketegasan. tiga tahun kita jalani hubungan yang entah disebut sebagai apa, lalu kemudian kau menghilang begitu saja, dan kudengar kabar kau sudah bersama dia. dan sekarang tiba-tiba kau muncul lagi dengan sejuta ceritamu yang entah benar atau tidak. aku tak tahu... kau kecewakan dia... aku tahu rasanya kecewa... dua tahun lamanya aku seperti gadis putus asa, menutup hati bagi setiap lelaki, hanya karena menunggumu kembali. dan benar saja, kini kau memang kembali, tapi aku wanita, aku tahu bagaimana perasaannya... aku tahu... aku sangat tahu...

"jadi sekarang apa maumu?"

"aku ingin kau maafkan aku..."

"iya, sudah kumaafkan..."

"begitu sajakah?"

"lantas, kau mau apa lagi?"

"aku ingin kita yang dulu..."

"setelah semua ini, kau ingin kita seperti dulu lagi? di atas kekecewaannya? tidak!..."

"kenapa? bukankah dulu kau pernah sangat menginginkanku? kau tidak rindu saat kita menonton stand up comedy bersama? kau tidak rindu saat kita menonton arsenal bertanding? dan terakhir, apa kau tidak rindu saat kita bernyanyi lagu "the messenger" bersama? bukankah dulu kita pernah saling menguatkan? bukankah dulu kita pernah saling menyemangati? kemana semua yang dulu? tidakkah kau ingin mengulang semua itu?"

"hey, ada apa denganmu? kenapa jadi kau yang bertanya seperti itu? harusnya aku yang bertanya seperti itu... dengar baik-baik ya... aku memang pernah sangat menginginkanmu, aku sangat rindu saat kita nonton stand up comedy bersama, menonton arsenal bertanding, dan menyanyikan lagu "the messenger" berdua, aku sangat merindukan itu semua... sangat...!!! tapi tidakkah kau sadar kalau kau yang sudah menghancurkan semuanya? aku memang sangat merindukan kita yang dulu, tapi sekarang semuanya sudah berbeda..."
lagi, ada jeda lagi di antara kita. aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang. yang jelas, sekarang aku sedang sibuk mengatur nafasku dan detak jantungku yang bekerja dua kali lebih cepat. sial! air mataku jatuh...

"jujur, aku masih sayang padamu, tapi aku mulai lelah... tiga tahun bersamamu tanpa kejelasan, dan dua tahun bertahan dalam pengharapan, seperti sudah menguras habis energiku..."

"kita bisa mulai lagi dari awal... aku memang bodoh, aku memang jahat sudah mempermainkan perasaanmu... maafkan aku..."

"aku juga minta maaf, sepertinya tidak bisa sekarang..."
aku berdiri dan beranjak dari bangku taman itu, berjalan menjauhi kau yang masih duduk terdiam di situ...

"aku akan menunggumu..."
tak kuhiraukan... aku terus berjalan... menjauh darimu... hatiku hancur... kau kembali tapi kau menghancurkan hatinya... entah harus kuterima atau tidak... ini adalah buah dari penantianku, tapi hati masih terselip ragu... seberapa lama lagi hati ini harus menderita karenamu? entah...

Flashback...

kau tahu? entah kenapa sampai sekarang aku masih sering melakukan kebiasaan kita dulu yang konyol. bukan karena aku tak bisa move on darimu, tapi karena.... kurasa hal-hal itu masih menyenangkan untuk dilakukan...

aku masih suka tertawa terbahak-bahak ketika menonton stand up comedy, bahkan terkadang sampai sulit untuk berhenti. kadang aku merasa seperti orang gila, karena kerap kali aku menontonnya sendirian. dulu, meski sendirian, setidaknya aku tahu di seberang sana kau juga sedang menontonnya. tapi kini aku yakin kalau aku sedang menontonnya seorang diri...

aku masih suka tidur larut malam bila ada barclays premier league. alasannya tentu saja karena menantikan arsenal bertanding. bukankah dulu kita selalu berteriak seperti orang gila ketika RVP berhasil mencetak gol dengan kaki kirinya? meski hanya lewat telepon, tapi kita sering lupa kalau saat itu sudah lewat jauh dari tengah malam. atau ketika ada Cazorla dan Giroud menggantikan kejayaan RVP, kita tetap menggila...

aku juga masih suka mendengarkan lagu-lagu Linkin Park. menurutku, mendengarkan suara Chester Bennington ketika jenuh melanda adalah hal yang paling menyenangkan. teriakannya seperti membangkitkan semangat. mendengarkan si jagoan rap Mike Shinoda pun bisa mendamaikan hati... atau ketika insomniaku menyerang, "The Messenger" akan selalu mengalun di telinga, menemaniku terjaga hingga akhirnya terlelap dan pagi tiba...

masih banyak kebiasaan kita yang lainnya yang masih kulakukan, iya, masih... sekali lagi, bukan karena aku tak bisa move on darimu, tapi karena hal-hal itu memang menyenangkan. terima kasih dulu kau telah mengajarkanku banyak hal. setidaknya kini aku tahu bagaimana caranya menumpahkan air mata tanpa orang tahu bahwa sebenarnya hati sedang sedih.... (kau pasti tahu kalau aku pasti akan tertawa sampai mengeluarkan air mata ketika menonton stand up comedy...)

*terkadang, flashback itu menyenangkan*